Kebon Raja di Kota Bandung

Gazebo di tengah taman

Mungkin karena mudah diucapkan dan akrab ditelinga orang Sunda orang-orang hususnya warga Bandung untuk sepakat menyebut taman ini “Kebon Raja”. Padahal taman tertua di kota Bandung ini, dibangun tahun 1885, asal mulanya bernama Pieter Sijthoffpark atau Pieterspark saja.

Mengapa juga disebut Kebon Raja karena di sebelah timur taman ini dahulu zaman Walanda berkuasa di negara kita, ada sekolah bernama Kweekschool voor Inlandsche Onder Wijzern dan sekolah ini sering disebut Sakola Raja. Masih mengenai nama taman ini, pada tahun 1950 menjadi Taman Merdeka, dan kemudian tahun 1996 menjadi bernama Taman Dewi Sartika, eeeh orang Bandung tetap saja menyebutnya Kebon Raja.

Taman elok ini terletak dikelilingi jln Aceh, jln Merdeka, jln Perintis Kemerdekaan, dan jln Wastukencana, dan juga dengan lalu lintas kendaraan yang super padat, untung ada jembatan penyebrangan untuk mencapainya yakni di jln Merdeka dan jln Wastukencana.

Baru-baru ini saya berkunjung ke taman ini,  ingatan saya melayang ke belakang ke tahun 1966 ketika masih SMA dan tergabung dalam KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) sebelum demonstrasi dilakukan sering berkumpul dulu di tempat ini. Satu lagi yang saya ingat jika malam tiba taman ini banyak dikunjungi kaum waria, semoga sekarang tidak lagi.

Patung dada Dewi Sartika

Kebon Raja saat ini masih tetap rindang dan tetap asri bangunan bulat berupa  gazebo masih ada meskipun demi keamanan ditutupi teralis besi. Kemudian ada patung dada Dewi Sartika yang dibawahnya ada tulisan: “Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa Monumen Pahlawan Nasional Ibu R Dewi Sartika diresmikan oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bandung Wahyu Hamijaya. Bandung, 4 Desember 1996”.

Kemudian ada patung badak putih, untuk mengenang katanya bahwa dahulu di kota Bandung pernah hidup badak dan nampaknya didukung dengan adanya wilayah atau lokasi yang disebut Ranca Badak, yang selanjutnya menjadi nama rumah sakit umum kota Bandung yakni RSU Ranca Badak.

Dibawah patung badak putih tersebut ditulis: “Dengan ridla Tuhan Yang Maha Esa semangat api Pancasila dan UUD 45 dalam dada kami tak pernah padam mengemban tugas meneruskan harapan agar nama dan titipan ini Bandung Semerbak sepanjang masa. Bandung 10 November 1981 Walikotamadya Kepala Daerah DT II Bandung H. Husen Wangsaatmadja. Ketua DPRD DT II Kodya Bandung Drs. Abdul Rochym”.

Patung Badak Putih

Sayang ada yang menyaingi prasasti tersebut yakni tulisan persis dibawah patung gajah putih yaitu: “DILARANG MENGAMBIL IKAN DENGAN CARA APAPUN DI KOLAM INI” maklum patung ini berdiri diatas kolam yang nampaknya kolam ini ditanami ikan.

Nah, bagi Anda yang lewat di taman Kebon Raja ini lalu kelelahan, atau cape dalam memperjuangkan kehidupan yang terasa semakin berat menghimpit, atau Anda yang sedang berbahagia karena mendapat kenaikan gaji berkala, atau sedang suka ria karena diterima calon mertua, istirahatlah di taman ini, biar jeda sejenak, sebagaimana menulis harus ada koma dan titik, member kesempatan untuk merenung sambil menikmati udara sejuk  dan teduh dari rindangnya pepohonan. Kemudian mudah-mudahan akan datang semangat baru atau datang inspirasi yang memberi semangat untuk melanjutkan kehidupan ini.

4 thoughts on “Kebon Raja di Kota Bandung

  1. kebonnya asri banget ya pak, sayang sekali kalau org lbh suka nongkrong di mall drpd di taman atau kebon cantik di atas

  2. Iya padahal di sini juga bisa digunakan untuk temu teman, ngobrol berkepanjangan, janji temu dengan relasi bisnis, bahkan belajar bersama, hanya memang tidak ada pilihan makanan selain bakso

  3. kalau makanan khan bisa bawa bekal sendiir ya pak🙂 .. ingat saja kebiasaan orang sini membawa bekal ke sekolah, kantor atau kalau lagi piknik atau ketemu teman
    terima kasih foto fotonya pak , senang saya bisa melihat gamabar gambar hijau dr bandung

  4. Iya memang begitu, yang paling populer membawa bekal lengkap adalah ketika piknik sekeluarga besar kalau di Bandung ke Kebun binatang atau ke taman lalu lintas, dan di Jakarta ke Kebun binatang Ragunan. Jangan lupa membawa tikar untuk digelar dan makannya sambil lesehan. Kenikmatan makan yang tiada taranya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s