Verboden voor Honden en Inlander; Terlarang bagi Anjing dan Pribumi

Jika mengemudikan mobil dari jln Asia Afrika terus mau masuk ke jln Braga di Kota Bandung akan ditemui tanda verboden. Verboden sendiri adalah bahasa Walanda alias Londo, tapi sangat dikenal oleh para pengemudi mobil kita, bahwa kalau dilanggar bakalan di-priiiiit!

Lalu kalau Verboden voor honden en Inlander, pada masa kolonial, verboden-nya pasti terlarang, terus arti selanjutnya adalah – terlarangnya masuk  bagi anjing dan pribumi. Verboden ini sangat menyakitkan bagi bangsa terjajah yaitu pada saat zaman kolonial disebut  pribumi atau inlander.

Yang semakin menyakitkan adalah tertulis di pintu masuk di beberapa tempat eksklusif Belanda bahwa: “Verboden voor Honden en Inlander“, artinya melarang masuk bagi anjing dan pribumi. Meski sebetulnya kata-kata larangan ini tidak ada bukti fotonya atau buktinya yang bisa dipercaya, setidaknya ketika saya mencarinya di google.

Disebutkan juga bahwa “Verboden voor honden en Inlander” terpampang pula di tempat-tempat husus yaitu di Batavia, seperti di trem, zwembad alias kolam renang, societeit, atau gedung pertemuan, begitu juga di lapangan sepak bola.

Klub pribumi dilarang bertanding dengan klub Eropa. Bahkan, untuk sekadar numpang merumput di lapanganseperti di Hercules, Bataviaasch Voetbal Club, dan Voetbal Batavia en Omstreken. Ketika mereka mengirimkan surat kepada klub-klub sepak bola Eropa yang ada di Batavia, untuk dapat meminjam lapangan milik mereka, jawaban tak pernah ada.

Societeit Concordia Bandoeng. majalah-mangle.com

Juga di tempat-tempat dugem eksklusif khusus untuk warga kulit putih atau para Preanger planters (Pemilik Perkebunan teh dan kina) seperti di Societeit  Concordia di Bandoeng atau kalau di Surabaya di De Simpangsche Societeit  terpampang “Verboden voor honden en Inlander”.

Saya mencoba ngarerema hate atau mencoba mengerti mengapa bangsa kulit putih saat itu tega-teganya menyejajarkan anjing dengan manusia yang Inlander itu. Dugaan saya di budaya orang kulit putih anjing tidak seperti kalau kita memperlakukan  “anjing”. Di sebagian kita anjing adalah binatang yang tidak boleh dipersamakan dengan manusia, bahkan kalau badan kita dijilat atau kena liur anjing harap diseretu atau digosok dengan tanah baru terakhir dengan air. Sementara bagi hususnya orang Belanda  anjing itu adalah kawan dari manusia, perlu dipelihara dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang. (Maaf jika saya berlebihan karena sebetulnya persepsi kita pun sekarang mungkin sudah banyak berubah dalam memperlakukan binatang peliharaan).

Balai Pemuda Surabaya

Nah, mungkin sebagian orang kulit putih saat itu kemana-mana selalu membawa anjing. Sementara orang pribumi  Batavia, Bandoeng, dan Soerabaja, pada zaman dulu kemana-mana tidak pernah membawa anjing peliharaan bukan. Memang iya membawa banyak anjing tapi ketika akan berburu di kebun atau di hutan khususnya kala berburu babi.

Maka saya hampir yakin bahwa “Verboden voor Honden” adalah husus untuk Walanda yang menuntun anjing kesayangannya terus mau masuk ke Societeit tertentu sebagai contoh masuk ke gedung Societeit Concordia di Bandoeng.

Lalu mengapa dengan lanjutannya yang verboden juga voor Inlander, kalau ini mah sifat mendasar manusia secara umum tidak kulit putih tidak Melayu sama saja yaitu ingin privasinya dihargai, ingin khusus, ingin diperlakukan beda dengan yang lain, ingin diistimewakan. Bukankah kita merasa sangat bangga ketika masuk ke ruangan yang VVIP yang dihususkan hanya orang yang mampu secara finansial, atau masuk ke tempat menonton yang dihususkan duduk di kursi tribun. Bahkan ada beberapa perusahaan di tanah air saat ini juga ada yang membeda-bedakan pekerjanya, misal ada golongan staff dan golongan nonstaff. Untuk staff tempat makannya dan tempat pestanya dibuatkan husus beda dengan nonstaff yang ditempat biasa saja.

Meski saya berupaya untuk ngarerema hate, tapi tetap bersyukur kepada Allah SWT bahwa pada saat ini Indonesia telah merdeka, dan syukurnya saya tidak mengalami masa penjajahan. Selanjutnya, pada tahun 1955, bertepatan dengan tahun penyelenggaraan Konprensi Asia-Afrika, oleh Ir. Soekarno, nama Societeit Concordia di Bandung diubah menjadi Gedung Merdeka yang menjadi ruangan konprensinya.  Soekarno ingin “mendobrak” keadaan masa lalu gedung ini, dimana dulu kedua belah bangunan ini merupakan simbol rasialisme dari kolonialisme di Indonesia. Demikian juga dengan Simpangsche Societeit selanjutnya dijadikan Balai Pemuda yang berada di jantung kota Surabaya.

Bahan bacaan:  aleut.wordpress.com, banjar-jabar.go.id, mahanagari.com, majalah-mangle.com, warta-indonesia.com, opakopik.multiply.com, suporter.info


2 thoughts on “Verboden voor Honden en Inlander; Terlarang bagi Anjing dan Pribumi

  1. Saya hanya ingin melihat peristiwa saat zaman kolonial itu dari sudut pandang lain, sebab ternyata kehidupan ini tidak hanya sekedar hitam putih. Meski begitu saya senang dan berterima kasih dengan komen anda. Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s