Tungku ataoe “Hawu”

Tungku alias "hawu"

Tungku atau hawu (Sunda) adalah tempat kagiatan masak-memasak membuat makanan. Tungku umumnya terbuat dari tanah yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa menyalakan api memakai kayu bakar dan di bagian atas tungku dibuat lubang untuk meletakan panci, cerek, dandang, ketel penggorengan, dan sebagainya.

Tungku atau hawu itu, meskipun dalam pikiran saya adalah saat tahun 50-an masa kecil ketika tinggal di perkampungan wilayah Ciamis utara, tapi saat ini di daerah pedesaan khususnya di Priangan yakin masih ada yang mempergunakannya. Apalagi ketika subsidi minyak tanah dicabut pemerintah, yang mengakibatkan harganya melambung tinggi,  tentu banyak yang beralih ke tungku, dengan mengunakan bahan bakar dari kayu.

Tungku biasanya diletakan di lantai tanah, di sebutlah “dapur kotor” tapi justru di sekeliling tungku itu berbagai kegiatan keluarga dilakukan. Misal mulai dari bangun pagi anggota keluarga berkumpul dan mengobrol di seputar tungku sambil menghangatkan badan siduru apalagi jika udara dingin. Rencana-rencana kegiatan keluarga juga banyak diputuskan di sini.

Karena di tungku ada bara api dari kayu, maka arang yang masih membara bisa digunakan sekalian untuk setrikaan arang jika ingin menyetrika. Bara api di tungku juga bisa digunakan untuk membakar ikan, memanggang ikan, memanggang opak, bahkan debu yang panas bisa dipakai untuk memepes ikan dan membuat bubuy singkong alias singkong bakar. Abu yang terbentuk dari kayu bakar itu bisa digunakan sebagai abu gosok untuk membersihkan peralatan dapur dan peralatan makan.

dandang

Biasanya di pedesaan pagi-pagi buta sudah sarapan bahkan pagi-pagi sekali itu bukan disebut sarapan karena porsinya adalah makan biasa, makan besar. Dan sebab sambil siduru itu kadang makan juga dilakukan sambil menghangatkan badan makan pagi dalam posisi jongkok.

Memasak nasi sebagai makanan pokok dilakukan di dandang atau seeng, sambil menanak nasi juga sekalian dalam satu dandang memasak air untuk minum.

Dan setelah selesai makan anggota keluarga langsung bubar dilanjutkan dengan kegiatannya masing-masing, anak-anak ke sekolah, orang tua ke kebun, ke sawah, ke kolam, para pegawai seperti guru, aparat desa, petugas keamanan, pergi ke aktivitas harian masing-masing bubar dari sekitar hawu, dan besok hari berkumpul lagi di sekitar hawu.

Sumber gambar: koleksi tatangmanguny.wp.com

 


2 thoughts on “Tungku ataoe “Hawu”

  1. ras emut ka tuang rama nu tos ngantunkeun…
    nalika nuju ngadamel hawu.. nu emutmah taneuh beureum di lio hela di campuran ku tapas kalapa…atos boborot ku kesang nembe di bentuk..

  2. keun tuang rama atos lalugina di alam pawenangan, jasa-jasana tangtos karaos ku para putra, sing janten putra nu sholeh ngarah doana dugi ka almarhum. wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s