“Bebecek”, Kakaren Lebaran

Lebaran tahun ini 2011 atau 1432 H agak istimewa, mengapa?  Karena banyak keluarga yang mengira lebaran akan kompak jatuh pada hari Selasa 30 Agustus, eh ternyata pemerintah mengumumkan lebaran hari Rabu tanggal 31 Agustus 2011. Bagi khususnya ibu-ibu di dapur tidak mempersoalkan mengapa lebaran saja sampai tidak kompak, akan tetapi masalah managemen makanan atau pasakan khas lebaran, yang bukan hanya kue yang tahan lama akan tetapi pasakan basah yang mempunyai masa kadaluwarsa.

Banyak rumah tangga yang mempersiapkan ketupat dan kare ayam sejak hari Senin , maksudnya biar buka terakhir sudah bisa takjil langsung kuah ketupat dan kare ayam. Tetapi ternyata itu bukan buka puasa terakhir namun besoknya harus puasa lagi. Oke, tak masalah puasa lagi tapi bagaimana ini, pasakan basah dan tumis-tumis kan makanan yang tidak tahan lama alias cepat basi. Tapi juga itu tidak terlalu persoalan besar karena selalu ada jalan keluar.

Kakaren kalau diterapkan di makanan adalah makanan sisa hajatan atau sisa lebaran. Tumis-tumis, yang kalau di Ciamis disebut sanga, yaitu berupa sanga kentang pakai ati dan petai, sanga kacang, sanga besengek masakan dari bahan cabe yang pedaaas sekali, opor ayam, kare ayam, dan sebagainya. Nah, lebaran ini, karena persiapannya lebih awal jadinya ketika tiba saatnya lebaran tumis-tumis atau sanga-sang sudah mulai basi, dan kalau basi itu rasanya sudah mulai asam.

Seperti tadi saya sebutkan bahwa ibu-ibu di dapur selalu punya jalan keluar agar jangan sampai makanan itu terbuang percuma maka jadilah masakan tersebut menjadi kakaren yang masih sedap kalau disantap. Caranya masakan basah tersebut dimasak dicampurkan menjadi satu dalam kuali yang besar dan orang Bandung punya nama yakni bebecek. Tak peduli campuran masakan itu akan “sejuta rasanya” tapi terus terang kalau dimakan pada hari ketiga atau seterusnya rasanya enak dan nikmat.

Rupa-rupanya saja bebecek yang adalah makanan daur ulang tersebut telah dilakukan ibu-ibu secara turun temurun, sehingga lidah orang Bandung selalu ketagihan makanan kakaren berupa bebecek yang kalau mau jujur dan terus terang rasanya agak sedikit basi malahan sedikit rasa asam, yang kemudian malah jadi enak itu.

Berikutnya karena sekarang zaman rekayasa, coba saja sebagai contoh kopi luwak, aslinya kan memungut buangan biji kopi dari kotoran luwak liar di kebun kopi, akan tetapi selanjutnya malahan sengaja memelihara luwak dan buangan kototorannya itu yang diolah, kan tidak orisinil kali? Demikian juga dengan bebecek bahwa tidak selalu setiap lebaran ada kakaren bahkan boro-boro ada kakaren yang akan dibuat bebecek malahan makanan lebaran sudah habis sebelum hari-hari lebaran berakhir.

Tapi, sekali lagi selalu ada jalan agar tiap tahun merasakan masakan bebecek itu, yaitu dengan sengaja khusus membuat tumis-tumis atau sanga-sanga spesial untuk bebecek beberapa hari sebelum lebaran tiba dan begitu lebaran makanan tersebut sudah bisa dijadikan bebecek yang pasangan disantapnya  akan lebih nikmat dengan ulen ketan dan sekali lagi itu bisa direkayasa dipersiapkan sebelumnya.

Dan bebecek pun di hari lebaran sudah menjadi menu pilihan

bade nyobian bebecek oge aya!” (“mau mencoba bebecek juga ada!”) kata pribumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s