Lebaran Tempo Doeloe

Saudara, saat saya mem-posting tulisan ini, tinggal satu hari lagi saja yakni hari Senin ini kita berpuasa, segera setelah itu bulan puasa akan selesai dan kita akan menyambut datangnya tanggal 1 Syawal 1432 H. Tanggal satu Syawal ini adalah hari raya Idul Fitri atau paling umum disebut Lebaran. Biar saja tahun ini ada perbedaan dalam menyambut hari lebaran yaitu ada yang tanggal 30 Agustus dan banyak pula yang tanggal 31 Agustus 2011, tak masalah, perbedaan dalam hal ini sudah kita alami berabad-abad.

Latihan lapar dan dahaga telah kita lakukan, demikian juga latihan pengendalian hawa nafsu telah kita ikuti. Harapan dengan latihan itu kita di hari mendatang mutu kemanusiaan kita akan meningkat lebih baik dibanding dengan hari-hari sebelum Ramadhan. Berjanji akan lebih sayang kepada kaum dhuafa serta kaum tertindas, bersumpah never ever korupsi, mari kita sebagai  manusia yang hidup berdampingan menjadi rakhmat bagi seru sekalian alam.

Saudara, berbicara dengan kebahagiaan hari lebaran yang paling indah adalah ketika masa kecil, seperti yang saya alami pada tahun 50-an. Lebaran adalah baju baru, lebaran adalah makanan enak, main petasan, dan meriam-meriaman dari bambu bitung dengan bahan peledak minyak tanah atau karbit. Dan tradisi masa kecil saya adalah kamerekaan alias kekenyangan dengan makanan. Karena kemaruk segala dimakan pada hari raya setelah puasa sebulan, akibatnya sore hari raya sudah tidak bisa apa-apa lagi.

Kalau Lebaran di Bandung tahun 70-an adalah biasa saja tradisi saling mengunjungi semakin jarang, tetangga hanya bersalaman di luar rumah saja tidak masuk ke dalam. Bahkan banyak dari mereka yang berlebaran dirayakan di tempat-tempat rekreasi terutama kalau di Bandung ke derenten alias Kebun binatang.

Lebaran yang paling ramai adalah ketika saya bekerja di Kalimantan Timur tahun 80-an di komplek perusahaan. Silaturahmi kepada atasan dan kepada yang lebih tua masih ramai. Disaping berkunjung kepada yang lebih tua juga menerima tamu dari mereka yang masih yunior. Sama saja saya masih kemaruk tak ada hentinya memakan apapun yang disajikan seperti masa kecil kamerekaan alias kekenyangan.

Saya jadi ingin tahu kalau Lebaran zaman dahoeloe bagaimana, sebutlah di tahun awal-awal abad ke 20. Di bawah ini hasil pencarian searching di google dan ada dari koleksi Tropenmuseum

Sholat Idul Fitri di lapangan pada hari pertama bulan Syawal Tahun 1910 - 1930. Koleksi Tropenmuseum

Sholat Idul Fitri ini dilakukan di luar masjid atau di lapangan. Kelihatan sepertinya ada yang tidak sholat berjamaah hanya berdiri saja.

Tidak begitu jelas di mana lokasinya tapi kalau tidak salah ini di Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Hampir semua laki-laki bertutup kepala seperti halnya mereka yang dari Timur Tengah.

 

Foto saat lebaran tahun 1901 - 1912. Koleksi Tropenmuseum

Menyambut hari raya Ied atau Lebaran dengan menabuh rebana di Moearamanderas, dimana itu ya?

Berfoto bersama menandai datangnya 1 Syawal. Koleksi Tropenmuseum

Berfoto bersama malam hari di Lebong Donok (?) menandai datangnya tanggal 1 Syawal, tertanggal 14-12-1936

Berpoto di studio. Koleksi Tropenmuseum

Atau untuk menandai datangnya hari raya Ied dengan berfoto bertiga di Studio Potret, keterangan:  rimbawan Karjo Sardjono, Mohamad, dan Abu Hasan, tertanggal 17-06-1920

Akhirnya saya pribadi ingin memohon maaf atas kesalahan utamanya dalam menulis di blog ini, banyak kata atau kalimat yang kurang berkenan di hati Anda. Sekali lagi maaf lahir bathin.

Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s