Jika Bupati Bandoeng Tempo Doeloe Merayakan Lebaran

Bupati Bandoeng Berlebaran. Koleksi Mahanagari

Pada hari raya lebaran (Idul Fitri), kaum menak  memiliki acara khu­sus. Pagi hari ketika akan melaksanakan Sholat led, bupati yang me­makai jubah yang biasa dipakai oleh seorang haji pada masa itu, dijemput oleh kaum menak  bawahannya, termasuk Hoofdpenghulu menuju mesjid agung. Bupati diberi tempat terhormat di baris pa­ling depan.

Selesai sembahyang dan khutbah, bupati diiringkan kembali ke kabupaten. Hal ini ditunjukkan bukan untuk sekedar silaturahmi di hari lebaran, tetapi lebih menunjuk pada sikap kumawula bawahan kepada atasan. Hal ini berlangsung hingga berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda.

Begitu masuk ke kabupaten, gamelan dan meriam dibunyikan. Yang pertama kali munjungan  kepada bupati adalah garwa padmi, kemudian istri‑istri dan para selir, serta anak‑anak dan sanak keluarganya. Menak-menak kabupaten berdatangan dengan mengenakan pakaian resmi, lengkap dengan songsongnya. Mereka duduk di tikar‑tikar yang bagus atau di atas babut. Bupati duduk di atas karpet yang digelar di atas tikar. Para bawahannya kemudian menyampaikan selamat dengan cara mencium kaki bupati. Para istri menak kabupaten yang hadir di sana, juga munjungan kepada bupati.

Bupati Bandung, R.A.A. Wiranatakusurnah yang biasa memakai kostum Arab untuk melakukan upacara lebaran seperti ini, mendapat kecaman dari Residen Gesseler Verschuir dengan menyebut bupati itu seperti bermain operet di depan para tamu Belanda. Apa yang dikemukakan Verschuir ini menunjukkan dua hal pertama, sebagai orang asing,Verschuir tidak mernahami adat pribumi  kedua, menunjukkan si­kap antipati Verschuir terhadap bupati yang dianggap terlalu pro­gresif.

Sekitar pukul 9‑10 bupati mengganti jubah haji dengan pakaian kebesaran untuk pergi ke rumah asisten‑residen atau residen (un­tuk bupati dari kabupaten yang dijadikan ibu kota keresidenan),Maksudnya melaporkan bahwa hari itu adalah hari lebaran, sekali­gus menyampaikan undangan untuk menghadiri resepsi di kabu­paten. Kadang‑kadang ada bupati yang tidak datang sendiri ke ru­mah asisten‑residen, tetapi meyuruh patihnya. Bupati yang ber­tindak demikian dianggap sombong dan harus mendapat teguran dari Pemerintah Hindia‑Belanda.

Pukul 11 siang diadakan resepsi di kabupaten yang dihadiri para pejabat Belanda dan kaum menak yang menjadi pejabat pangrehpraja. Pada kesempatan itu residen atau asisten‑residen, atas nama penduduk yang bukan pribumi menyampaikan ucapan selamat hari raya. Kesempatan semacam ini biasanya dipergunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memberikan tanda jasa atau tanda penghargaan kepada pejabat pribumi yang berprestasi. Kemudian waktu pemberian penghargaan itu diubah menjadi pada hari lahir Ratu Belanda karena pada tahun 1904 upacara lebaran juga upacara Tahun Baru Masehi ditiadakan untuk penghematan belanja negara. Residen atau asisten residen kemudian memberikan ucapan selamat kepada garwa padmi bupati yang berada di serambi dalam.Bermacam‑macam hidangan digelar untuk para tamu, termasuk minuman champagne.

Sementara itu, di alun‑alun diadakan keramaian untuk hiburan rakyat, misalnya: adu harimau, adu kerbau, adu domba, dan adu babi hutan. Di pendopo kabupaten biasanya diadakan pertunjukan wayang. Malam harinya dilanjutkan dengan tayuban yang berlangsung hingga pukul delapan pagi keesokan harinya.

Setelah ditiadakannya upacara lebaran pada tahun 1904, kaum menak bawahan bupati, termasuk patih afdeeling, tetap diwajibkan menghadap bupati pada hari lebaran, baik di kabupaten maupun di mesjid karena bupati adalah kepala agama Islam di Kabupaten. Hal ini dicanturnkan dalam Staatsblad th. 1907, no. 192. Jadi, kebiasaan menghadap pada hari lebaran dilegalisasikan dengan ketentuan pemerintah. Bila berhalangan karena sakit atau ada tugas negara yang penting, menak bawahan boleh tidak menghadap kepada menak atasannya pada hari itu.

Sumber: Seluruh naskah diambil dari buku Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800 – 1942 oleh DR Nina H. Lubis hal 205 – 207

One thought on “Jika Bupati Bandoeng Tempo Doeloe Merayakan Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s