Toko Kopeah “M Iming”, Sejak 1920

Kopiah lama merk M Iming

Tutup kepala, peci, kopiah, atau kopeah (bhs Sunda) tak asing lagi bagi kebanyakan kita. Kopiah, terutama zaman dulu, mekipun hari-hari tidak bertutup kepala mendadak dicari kalau akan menjalankan ibadah sholat, apalagi kalau sholat berjamaah misal sholat jumat atau sholat taraweh di masjid. Rasanya terlalu pelontos kalau tidak memakai tutup kepala.

Meskipun zaman sekarang anak-anak muda kalau sholat berjamaah di masjid tidak begitu menyukai memakai penutup kepala. Saya sempat menyaksikan sholat jumat di Masjid Salman ITB Bandung, kebetulan sholat di barisan belakang, kelihatan semua kepala pelontos tak berkopiah kecuali imam, tak mengapa memang.

Gambar di atas adalah kopiah lama saya yang sampai sekarang masih menemani masa tua saya, mungkin kopiah tersebut sudah berumur lebih dari 20 tahun.

Kopiah "M Iming" dibalik

Jika kopiah ini dibalik akan kelihatan siapa pembuatnya yaitu M. Iming. Dahulu kalau saya sudah memakai kopiah merk  “M Iming” merasa sudah “modis” karena kopiah  “M. Iming” sudah terkenal sebagai kopiah berkualitas. Jadi kalau mencari kopiah yang baik dan enak dipakai maka mencarinya adalah kopiah merk “M Iming”.

Ketika saya jalan-jalan di sekitar Kosambi Bandung ternyata toko kopiah “M Iming” masih ada. Tentu saja si pencetus ide dan pemilik usaha kopiah pertama yakni Pak M Iming sudah tiada, penerusnya adalah cicit almarhum yang dengan tekun dan rajin berusaha dibidang penutup kepala pria ini.

Penutup kepala ini awalnya diproduksi Mas Iming pada 1912. Berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah, dia merantau ke Bandung. Bermodal mesin jahit tangan, ia mulai membuat peci dan mangkal di pinggir Jalan Simpang Lima, Bandung.

Toko Kopeah "M. Iming" tetap setia

Pada 1920, Mas Iming membeli rumah yang dijadikan tempat jualan kopiah di Jalan Groote Postweg—kini Jalan Ahmad Yani, Bandung.

Kalau melihat tahunnya berdiri toko tersebut yakni tahun 1920, sudah 90 tahun sudah usaha kopiah “M. Iming” ini.

Karena zaman telah berubah dimana jalan A Yani atau jalan Raya Timur atau awalnya bernama Groote Postweg kini lalu lintas kendaraan demikian padat. Toko yang terletak dekat dengan perlimaan Kota Bandung itu tidak terlalu ramai oleh pembeli, karena pertama mugkin hanya pelanggan yang sudah lama mengenal saja yang datang, keduanya memang sekitar wilayah ini pertokoan menjadi sepi karena barangkali hanya untuk parkir kendaraan di depan tokonya pun sudah tidak bisa karena kendaraan demikian padat dan memang dekat lampu setopan jalan lagi.

Toko Kopeah "M Iming" Bandoeng

Iming mengelola usahanya dengan setia hingga tutup usia pada 1960. Sepeninggal Mas Iming, usaha kopiah diteruskan anak-cucunya.

Usaha tersebut terus dikelola dan dengan konsisten dipertahankan, hingga kini. Barangkali cicit beliau M Iming yang lain terus  melanjutkan mendirikan toko di  tempat berbeda di Kota Bandung ini.

Jika Anda ingin tahu harga kopiah tersebut yaitu  Rp 35-130 ribu per buah.

Usaha lama yang telah tekun dirintis orang tua seyogianya tetap dijalankan tentunya dengan segala inovasi dan kadang variasi seperti Toko Kopeah “M. Iming” ini.

Bacaan:   Peci M Iming [1912]   Tempointeraktif

5 thoughts on “Toko Kopeah “M Iming”, Sejak 1920

  1. Saya mau beli kopyah warna hitam polos via belanja on line berapa harga perbuahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s