“Rusdi jeung Misnem” Buku Bacaan Sekolah Tempo Doeloe di Priangan

"Meester", Guru sedang mengajar. Koleksi: Yulie alle bewijzen

Pada zaman kolonial Belanda untuk memenuhi kebutuhan murid sekolah akan bacaan, telah menerbitkan berbagai buku seperti diterangkan oleh Ajip Rosidi dalam tulisan berjudul “Bahan Bacaan Berbahasa Sunda di Sekolah-sekolah” dalam Jurnal Kebudayaan Sunda Dangiang edisi III/2002. Bahwa buku-buku tersebuta adalah buku-buku yang semuanya diterbitkan oleh Land’s Drukkerij, seperti Wawacan Wulang Krama (1862), Wawacan Wulang Guru (1962), Wawacan Wulang Murid (1865), Carita Secanala (1863), Dongeng – Dongeng Pieunteungeun (1867), Wawacan Panji Wulung (1867), dan lain-lain.

Selanjutnya disebutkan bahwa, buku-buku bacaan demikian dalam bahasa Sunda umumnya ditulis oleh para penulis pribumi namun dengan bimbingan para ahli Belanda yang agaknya membuat desain isinya. Untuk tingkat Sekolah Dasar (Sekolah Desa dan Sekolah Angka Dua), biasanya merupakan cerita kehidupan anak desa Sunda sehari-hari.

Kemudian Kang Ajip juga menulis bahwa, yang paling mengesankan adalah Rusdi jeung Misnem (Rusdi dan Misnem) yang mengisahkan kehidupan dua orang anak desa kakak-beradik dengan segala sifatnya yang baik maupun yang buruk.

Tapi di samping itu banyak lagi buku bacaan demikian, di antaranya Diajar Maca, Gandasari, Sumber Arum, dan lain-lain. Setiap bab panjangnya kira-kira sama, supaya cukup dibaca dalam satu jam pelajaran. Melalui buku-buku bacaan itu, ditanamkan kepada murid-murid agar gemar membaca dan mengenal sifat-sifat yang baik dan yang buruk, mengetahui sopan santun, suka menolong, dan sebagainya.

Buku lawas, khususnya Rusdi jeung Misnem, yang tentunya menjadi kenangan manis bagi mereka yang pernah membacanya. Seperti kata Hawe Setiawan orang tua dahulu kalau menolak pendapat yang salah sambil bergurau biasa menyebutkan “Tidak ada dalam buku Rusdinya!” Bukan KUHP yang dirujuk akan tetapi buku bacaan ketka masih duduk di SR tempo doeloe yaitu buku “Rusdi jeung Misnem

Didalam setiap cerita biasanya disertai ilustrasi atau gambar yang memperjelas  cerita dalam buku tersebut. Nah ilustrasi atau gambar-gambar inilah yang ingin saya pajang kembali di sini.

Dari buku Roesdi jeung Misnem

Dari buku Roesdi jeung Misnem

 

Ilustrasi di bawah ini dari buku lain yakni Panggelar Boedi Soenda

Dari Panggelar Boedi Soenda

Bacaan:

Jurnal Kebudayaan Sunda Dangiang edisi III/2002

Yulie, alle bewijzen

4 thoughts on ““Rusdi jeung Misnem” Buku Bacaan Sekolah Tempo Doeloe di Priangan

  1. seperti kata almarhum kakek saya yang jadi guru SD pertama di daerah cianjur selatan taun 50an sering bilang ‘euweuh dina buku rusdina’. jadi itu toh sejarahnya. makasih udah nambah wawasan kesundaan saya.

  2. Iya memang kakek anda betul, mereka sering berseloroh “euweuh dina buku Rusdina”, dan semua orang sepakat bahwa itu tidak ada aturan dari sononya. Sampai begitu terkesan terhadap buku “Rusdi Jeung Misnem” ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s