Trotoar di Cicadas Bandung

Dahulu tahun 1960-an trotoar jalan di Cicadas Bandung masih lengang, trotoar sungguh berfungsi untuk pejalan kaki, sekali lagi, untuk pejalan kaki bukan untuk mangkalnya pedagang kaki lima alias pkl.

Jalan-jalan sore atau malam hari menyusuri trotoar sepanjang jalan Raya Timur mulai dari simpang jln Cikutra sampai ke baraaat sana daerah Cibeunying. Trotoarnya bersih mendapatkan sinar matahari pagi dan siang, kebersihannya ya itu tanggung jawab masing-masing toko.

Toko-toko yang berderet sepanjang jalan trotoar cicadas adalah juga bangunan lama, ada apotek, ada toko sepatu, ada toko pakaian, ada tukang cukur, toko perlengkapan olah raga, ada toko emas dan lain sebagainya.

Memang iya tahun 60-an itu pun sudah ada pkl tapi masih jaraaang sekali, tidak sampai menghalangi pejalan kaki. Meskipun pkl-nya jarang akan tapi saat itu sudah juga ada razia dari pemda, dulu namanya Sapol PP ya?.Jadi para pkl sudah tahu kalau ada razia pada lari ke gang yang ada disepanjang trotoar jalan.

Dan Satpol PP zaman lawas itu selain razia pkl, kalau Anda percaya,  sesekali mengadakan razia terhadap celana ketat dan rambut jabrig. Betul-betul razianya dilakukan serius petugasnya membawa gunting. Tempat-tempat tertentu menjadi momok bagi para koboy Cicadas saat itu. Tak ayal lagi bagi yang bercelana ketat akan dipepet petugas dan celana penjang yang lagi mode itu terpaksa digunting. Demikian juga si jabrig ala beatle jauhi tempat ini, karena pasti kena gunting. Rasanya saya ingin membaca Perda-nya apakah ada ya yang mengatur tentang mode pakaian dan apalagi bagi koboy jabrig. Barangkali kalau zaman sekarang kata petugas Satpol PP:  “Emangnya gua pikirin, boro-boro ngurus koboy, menata pkl saja sudah kewalahan!”

Kini, Cicadas Nan Kumuh

Sekarang bahkan setahu saya setidaknya sejak 10 tahun yang lalu trotoar Cicadas sungguh memprihatinkan. Sepanjang jalan yang saya sebutkan tadi yaitu mulai dari simpang jalan Cikutra sampai Cibeunying penuuuuh dengan pkl jualannya macam-macam selain pakaian, sepatu dan sandal, jam tangan, dompet ataupun makanan.

Bukan hanya itu pkl tersebut telah “ditata” dengan diberi tenda beratapkan plastik biru yang lama-kelamaan tidak biru lag karena dihinggapi debu, sungguh menambah kekumuhan. Toko-toko yang berbaris rapi sekarang sudah tidak kelihatan, saya tidak mengerti komitmen anatara pedagang kaki lima dengan pemilik toko, ada dominasi dari satu pihak tentunya.

Trotoar Cicadas nangGelap dan pengap

Saya kalau dibayar untuk jalan-jalan sore atau malam hari di lorong gelap itu rasanya harus mikir dua kali, ogah ah! Karena bagaimana mau jalan-jalan untuk menghilangkan penat sehabis bekerja seharian, malahan bisa-bisa menambah ruwet pikiran.

Ngomong-ngomong soal lokasi PKL ternyata Cicadas tidak termasuk 7 titik yang sering disebutkan jangan ada pkl, 7 titik itu adalah,  Jln. Otista, Dewi Sartika, Dalem Kaum, Merdeka, Asia Afrika, Kapatihan, dan seputar Alun-alun. Pantas saja Cicadas tidak tuntas-tuntas atuh!

Begitulah tentang trotoar Cicadas zaman dahulu dan sekarang. Bahwa trotoar di kawasan ini masih dipadati PKL pedagang makanan, pakaian, dan lain-lain. Para pejalan kaki pun akhirnya terpaksa harus berbagi trotoar dengan para pedagang.

Kasihan yang ingin mencari angin di trotoar Cicadas!

Semoga, entah kapan Cicadas menjadi kawasan yang asri!

2 thoughts on “Trotoar di Cicadas Bandung

  1. Mungkin harus bersamaan dengan datangnya kesempatan kerja bagi warganya, jadi pasti ada pilihan lain selain menjadi PKL yang menggunakan trotoar dimana itu merupakan haknya kaum pejalan kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s