Bertutur Tentang Tukang Kerupuk

Kerupuk

Yang namanya kerupuk itu bermacam-macam,  yang akan diceritakan di sini adalah kerupuk yang bahannya dari tepung tapioka kemudian diolah sedemikian rupa, dan jadilah kerupuk seperti gambarnya terlihat di samping ini.

Kerupuk seperti ini sangat populer dimana-mana, bisa dijadikan satu dan hanya satu-satunya teman nasi jika lagi kantong kempes. Atau jadi pendorong semangat makan, bisa juga selalu hadir di setiap kali makan karena kalau tidak ada kerupuk, gimana gitu..

Karen Rasanya yang asin dan gurih kemudian harganya relatif murah menyebabkan banyak diminati atau disukai semua golongan. Saya merasa heran mengapa anak-anak yang belajar makan sukanya malah kerupuk.

Rasa asin kerupuk jelas dari garam, kemudian rasa gurih bisa dari serbuk pecin atau karena digoreng dengan memakai minyak goreng. Dahulu baik rupa maupun rasa begitu saja putih dan asin gurih. Sekarang ada upaya-upaya untuk memariasikan rasa misal dengan menaburkan irisan bawang daun, dan ada pula yang memariasikan cara penggorengannya. Ada yang digoreng biasa saja, ada yang digoreng dengan masih setengah matang atau masih ngabagel, atau digorengnya agak gosong sehingga hampir berwarna coklat. Warnanya pun bervariasi ada yang putih biasa, warna burek, pink, dan orange.

Sudah diceritakan bahwa bahan kerupuk adalah tepung tapioka, terus dibuat adonan dengan penambah rasa dan warna, dicetak, dimasak, dijemur hingga kering, dan digoreng, terakhir dijajakan kepada konsumen.  Nah, untuk mengerjakan ini semua ada ceritanya.

Tahun 50 dan 60-an usaha kerupuk mencapai masa jayanya, demikian juga para tukang kerupuk atau buruh kerupuknya. Tukang kerupuk umumnya berasal dari Ciamis Jawa Barat, mereka datang dari kampung dan datang di kota besar seperti Bandung dan Jakarta untuk menjadi tukang kerupuk.

Bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah setelah SD/SR, karena alasan klasik dari dahulu hingga sekarang , adalah biaya pendidikan demikian mahal. Pilihan lain selain jadi buruh tani di kampung yaitu menjadi tukang kerupuk di kota.

Cta-citanya memang kebanyakan sudah dipatok  menjadi tukang kerupuk di kota. Beberapa orang yang mempunyai bakat usaha di bidang perkerupukan banyak yang asalnya tukang kerupuk juga, kemudian mendirikan pabrik kerupuk sendiri. Pemilik pabrik kerupuk inilah yang merekrut para lulusan SD itu untuk menjadi buruh pabriknya dari mulai jadi tukang adon, tukang cetak, memasak kerupuk, menjemur, menggoreng, sampai menjajakan door to door atau secara rutin mengisi tempat kerupuk yang disediakan warung, rumah makan, atau warteg-warteg.

Tukang kerupuk meskipun baru berumur 13 tahun sudah merantau, sudah bisa hidup mencari makan sendiri. Kemudian biasanya setahun tidak pulang-pulang dan saatnya lebaran ramai-ramai mudik pulang kampung. Mereka biasanya rajin menabung rupiah demi rupiah kemudian kalau pulang desa kelihatan lebih sejahtera dibandingkan dengan mereka yang menjadi buruh tani.

Pulang kampung sudah “bergaya” bisa berpakaian lebih baik, rambut kelimis karena minyak rambut “japarco”, menenteng koper kaleng, bahkan meski bekas ada yang menenteng kamera. Yang sewaktu berangkat masih bocah ketika kembali sudah menjadi remaja yang sudah mulai beger sudah bisa naksir gadis teman sekampungnya.

Bukan hanya lebih keren akan tetapi bagi yang hemat dengan bantuan dan pangjeujeuh orang tuanya di kampung bisa sedikit-demi sedikit membeli tanah dan kemudian membuat rumah yang lenih baik tidak hanya berdinding anyaman bambu tetapi kalau tidak “duduk jendela” pasti ditembok penuh.

Pedagang kerupuk keliling tahun 1950-an. Sumber Album Bandoeng Tempo Doeloe, Sudarsono Katam & Lulus Abadi

Gambar disamping adalah penjaja kerupuk zaman dahulu. Lihat tempatnya mungkin sekarang sudah jarang ditemukan. Sekarang pedagang kerupuk keliling sudah memakai kantung plastik besar, bahkan krupuknya juga sudah dibungkus sepuluh-sepuluh didalam plastik ukuran kecil. Tempat dagang kerupuk dengan jemblung sudah jarang dipakai karena tidak pleksibel dibawa ke gang sempit. Disamping itu gang-gang sempit sekarang dimasuki kendaraan motor, nah kalau dagang kerupuk masih memakai jemblungbagaimana kalau papasan coba?

Baru-baru ini saya di Bandung kedatangan teman SD/SR dahulu yang sudah sama tuanya dengan saya, dia dahulu tukang kerupuk, dan sekarang mau mengantar anaknya menjadi tukang kerupuk. Tapi menurut ceritanya sekarang tidak sejaya masa tahun 50 dan 60-an, usaha kerupuk lebih sulit, bahkan untuk menjadi tukang kerupuk keliling saja harus menyerahkan dahulu uang minimum Rp 3 juta rupiah kepada pemilik pabrik sebagai uang jaminan.

Hidup ini sepertinya bagi orang kecil tidak semakin mudah ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s