Beduk

Beduk

Kalau saya melihat beduk yang berada di masjid jadi teringat masa kecil tahun 50-an di wilayah Ciamis utara Jawa Barat. Mulai dari pembuatan beduk itu sendiri bahwa badannya atau bodynya terbuat dari sepotong pohon yang besar yang dilubangi bagian tengahnya. Kemudian kulitnya harus kulit sapi yang utuh jangan ada goresan atau apalagi sobek. Membuatnya juga termasuk biaya yang diperlukan harus bergotong royong karena untuk kemaslahatan umum.

Kebetulan di kampung saya pembuatan beduk yang digarap secara bergotong royong itu di tempat yang juga biasa membuat alat tabuh lain, misal membuat terebang, kendang, dan dogdog. Terebang digunakan untuk mengiringi sholawatan sebagaimana rebana, sedangkan kendang dan dogdog untuk pertunjukan seni sebagai hiburan.

Jadi meskipun sama ditabuh tapi tergantung penempatannya dan dipakai apa. Jika beduk atau terebang ditempatkan di masjid atau suarau akan menjadi “sakral” sedangkan kendang dan dogdog ditempatkan jauh dari masjid karena untuk hiburan dan bahkan tontonan, karena juga untuk mengiringi lagu atau mengirirngi gerak penari.

Kembali ke beduk, selain ditabuh untuk mengingatkan waktu sholat juga bisa dipukul pada waktu-waktu tertentu misal untuk membangunkan waktu sahur, sehari penuh menjelang bulan Ramadhan, atau ketika selesai sholat hari raya baik iedul fitri maupun iedul adha, membunyikan beduk selain mengingatkan waktu sholat itu disebut ngadulag.

Cara memukul beduk untuk mengingatkan waktu sholat ashar, maghrib, isya, dan subuh adalah sama yaitu kentongan dulu toloktok tok tok kemudian diikuti pemukulan beduk duk duk dua kali, dan itu diulangi sekali lagi. Beda dengan pukulan saat memperingatkan saat sholat zuhur yaitu mulainya sama kentongan dulu  toloktok tok tok kemudian dilanjutkan dengan memukul beduk mulai dari pemukulan pelan terus ritmenya semakin cepat dan suara semakin keras berikutnya ritme semakin turun dan suara semakin pelan terus begitu suara dan ritme naik turun sampai dua atau tiga kali, kemudian diakhiri dengan  kentongan  toloktok tok tok  dan ditutup dengan memukul beduk satu kali keras, lalu disambung dengan suara adzan. Memukul beduk untuk memperingati saat sholat harus dilakukan oleh petugas yang ditunjuk yakni merebot. Anak-anak boleh memukul beduk ketika ngadulag saja,  jangan coba-coba mewakili merebot saat memukul beduk untuk memperingatkan waktu sholat, kecuali mendapat izin jika merebot berhalangan.

Karena sekarang sudah ada pengeras suara, memperingati saat sholat cukup dengan suara adzan. Tapi jangan dikira beduk sekarang sudah hilang tetap dipertahankan dan masih difungsikan meskipun tidak merata di setiap masjid atau surau. Sebelum beduk hilang dari masjid setahu saya masih ada di masjid agung Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s