Saatnya Berbicara Takdir

Pada saat pertemuan silaturahmi itu kami para manula lima bersaudara, karena menginap di rumah peninggalan orang tua, sempat saling mencurahkan isi hati masing-masing alias curhat. Sebetulnya acara rutinnya biasa saja mengobral obrol kesana kemari, yang paling ramai adalah kala menceritakan pengalaman sewaktu masih kecil.

Karena silaturahmi ini hampir rutin diselenggarakan yaitu 6 bulan sekali jadinya kadang menceritakan peristiwa secara berulang-ulang, tapi bagi aki-aki dan nini-nini itu tak masalah dan biasa saja. Biasanya setelah sholat isya berjamaah pertemuan dilanjutkan dengan nembang lagu pupuh buhun bersama. Sengaja itu dipersiapkan masing-masing punya catatan tembangnya adapun nembangnya adalah lagu pupuh sinom, dangdanggula, asmarandana, kinanti, dan sebagainya, soal suaranya terdengar sember dan agak pales tak masalah maklum sudah pada berumur.

Berbagi cerita khususnya dengan saudara kadang tidak ada lagi yang dirahasiakan, bercerita selain cerita diwaktu kecil, juga saling berbagi nasihat, berbagi pengalaman hidup, dan juga ini yang selalu menjadi topik utama berita mengenai keadaan anak dan cucu.

Sebagai orang tua tentu masing-masing berupaya membesarkan, menyekolahkan, mendorong untuk mulai bekerja mencari nafkah sendiri-sendiri. Bukan hanya itu bahkan mengantar anak-anak untuk menikah membentuk rumah tangga dan ahirnya menghadiahi cucu dengan segala cerita suka dan dukanya.

Cerita tentang keluarga masing-masing tentunya berbagai cerita baik yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Berita sukanya adalah semisal mempunyai anak yang rumah tangganya rukun damai, keadaan perekonomian kelurganya baik, dan juga dengan mendapatkan pekerjaan yang baik pula. Tapi disamping itu ada juga cerita yang menyedihkan sekaligus mengharukan dimana ada salah satu anak yang perekonomian keluarganya pas-pasan, ada juga yang belum saja mendapatkan pekerjaan meskipun sudah berumah tangga. Dan yang paling menyedihkan adalah adanya rumah tangga anak yang berantakan.

Kemudian nampaknya setiap keluarga banyak merenung dan juga banyak mengambil makna dari pembicaraan-pembicaraan dengan saudara tersebut. Minimum tidak merasa keluaga sendiri saja yang mengalami duka dalam menghabiskan sisa-sisa umur ini.

Mempunyai anak yang telah menempuh hidup dengan baik dan berhasil tentnya itu membahagiakan orang tua. Alasannya adalah karena merasa sudah selesai dan berhasil mengantarkan anak-anak ke arah kehidupan yang berbahagia dan lebih baik.

Akan tetapi karena tidak semua anak bernasib seperti yang dikehendaki, atau pada kenyataan keberuntungan diantara anak juga berbeda-beda. Timbul berita dan cerita yang menyedihkan bahwa seperti diceritakan tadi ada anak yang bahkan rumah tangganya berantakan. Dan juga cerita mengenai anak yang masih tetap belum mendapatkan pekerjaan alias menganggur.

Menghadapi hal ini kami saling menasihati bahwa kita sebagai orang tua dimana rata-rata usia sudah diatas 60 tahun sudah merasa lelah mendorong anak untuk mencapai kemajuan. Apalagi tenaga dan juga harta yang rata-rata pensiunan sudah tidak mampu lagi membiayai anak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Jika sudah demikian baru kita saatnya berbicara soal takdir.

Apa sih takdir? Begini, kan orang tua sudah merasa tidak mampu lagi membiayai atau mendukung dan mendorong anak untuk maju, baik tenaga, dana, bahkan daya sudah tidak berkemampuan lagi untuk terus-terusan mendorong anak. Sudah saatnya orang tua yang sudah renta menikmati masa tua yang tinggal entah berapa saat lagi. Nasib anak-anak hendaknya terserah mereka sendiri. Mereka berusaha sendiri dan menentukan nasibnya masing-masing. Inilah saatnya percaya akan takdir serahkan segalanya pada anak-anak untuk berjuang dan menentukan takdirnya masing-masing yang pola-polanya sudah ditentukan oleh Allah SWT.

Dalam keadaan sudah begini orang tua hanya bisa mendengarkan cerita mengenai anak-anak, syukur kalau berhasil dan kalau belum beruntung masih ada kemampuan orang tua yakni  menasihati bahkan mungkin hanya bisa mendoakan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s