Kelapa Nasibmu Kini

Kebun Kelapa

Tempo hari saya dan istri  mudik, pulang ke sarakan, ke kampung kelahiran di daerah Ciamis Utara Jawa Barat.

Salah satu ciri yang khas tumbuhan di dataran rendah, apalagi di tepi pantai,  seperti Ciamis ini adalah pohon kelapa atau pohon nyiur.

Jika kita melihat nyiur melambai, di hamparan hijau sepanjang mata memandang, apalagi disambung dengan pemandangan laut lepas nan biru sungguh menakjubkan. Pantas banyak seniman yang terinspirasi untuk menciptakan cerita tentang cinta atau membuat nyanyian pemujaan terhadap alam atau tanah air, siapa yang tidak kenal dengan lagu “Rayuan Pohon Kelapa”.

Dahulu seingat saya tahun 50 dan 60-an perekonomian di kampung Ciawitali Ciamis sangat hidup karena adanya buah kelapa. Orang tua yang kebetulan memiliki tanah agak luas hampir semuanya ditanami kelapa. Dari buah kelapa itulah kami 8 bersaudara hidup dan disekolahkan, meskipun dalam ukuran cukup dan tidak berlebihan. Tapi semua anak bisa disekolahkan oleh orang tua sampai tamat SMA, dan kemudian masing-masing bisa langsung bekerja atau melanjutkan sekolah atas biaya sendiri.

Karena ada kegiatan perekonomian dari menjual buah kelapa yang bisa dipanen tiga bulan dua kali itu, maka banyak buruh tani bisa ada tambahan penghasilan artinya bisa makan lebih kenyang. Ada tukang petik kelapa yang sudah lihai memanjat pohon yang kadang sudah tinggi memecut. Ada tukang mengangkut kelapa, tukang mengupas, tukang mencungkil, tukang marut dan lain sebagainya.

Karena buah kelapa itu hampir setiap keluarga memiliki usaha home industri pembuatan minyak kelapa yaitu minyak goreng. Dengan sendirinya ada dihasilkan minyak goreng yang utama untuk dijual, ada ampas kelapa untuk makanan ikan dimana juga hampir semua orang memiliki kolam ikan, ada makanan yang dihasilkan berupa galendo, yang menjadi oleh-oleh khas Ciamis.

Karena banyak pohon kelapa maka bahan bakar di rumah tangga cukup dengan pelepah kelapa yang sudah kering, dengan kulit kelapa yang dijemur biar bisa jadi bahan bakar, demikian juga batok kelapa sangat baik untuk bahan bakar, dan arang batok kelapa saat itu untuk arangnya setrikaan, tidak usah membeli minyak tanah untuk kompor apalagi gas seperti jaman sekarang.

Karena buah kelapa jadi banyak kegiatan, banyak pekerjaan, banyak yang terbantu perekonomiannya. Bayangkan saja dari buah kelapa jadi banyak bandar pengepul kelapa, ada truk yang bolak balik mengangkut buah kelapa yang hanya dikupas saja masih ada batoknya atau truk yang mengangkut kopra yaitu daging buah kelapa yang kering karena dijemur atau diganggang dengan panas api pembakaran.

Buah kelapa yang baik dan unggul dijadikan bibit yang disebut kitri, berderet pohon kelapa yang baru tumbuh, juga pohon kelapa yang sudah tua kayunya bisa dibuat bahan bangunan rumah bahkan jembatan penyebrangan. Atau pohon kelapa hanya dipotong saja dengan ukuran yang sama disimpan dipinggir jalan kelak galugu ini setelah terkumpul ada truk yang mengangkutnya kelak dibelah dijadikan bahan bakar.

Tapi kini nasibmu oh kelapa sungguh mengenaskan, sudah lama barangkali sejak akhir tahun 70-an cerita tentang kelapa sudah tidak ada. Harga kelapa jatuh berdebum seperti kelapa jatuh dari pohonnya. Bahkan ada yang menyebutkan harga sebutir kelapa sama dengan harga sebutir buah salak.

Urang lembur sudah tidak lagi berminat menanam dan mengurus pohon kelapa, pamarudan, tempat mengolah buah kelapa menjadi minyak goreng sudah lama berhenti, penyebabnya adalah tidak bisa bersaing dengan gencarnya serangan minyak goreng yang dibuat dari kelapa sawit.

Kebun kelapa semakin jarang, buruh tani banyak yang menganggur alih profesi kemana selain kemampuan ekonomi semakin lemah. Banyak buruh tani yang selanjutnya mencari penghidupan di kota jadi kuli atau tukang becak.

Saat ini buah kelapa hanya laku untuk diambil santannya untuk masak, dibuat minyak kelapa hanya untuk obat atau pelicin kalau memijit atau mengurut badan. Kadang diolah hanya diambil galendonya untuk dikemas sebagai oleh-oleh.Itupun sudah sangat jarang tukang yang memanjat pohon kelapanya. Usaha kecil-kecilan seperti itu tidak menghidupkan perekonomian rakyat secara masal khususnya membangkitkan usaha jenis buah kelapa.

Demikian kenangan saya mengenai buah kelapa, aki, orang tua, ua, paman, saudara sepupu, Mang Sanahri, Mang Jai, Mang Anda,mang Marnuki yang dulu berusaha dan bergelut dengan kelapa kini sudah tiada, satu demi satu meninggalkan alam fana ini, mereka sangat berjasa berjuang menghidupi keluarga. Kini tinggal kenangan, tinggal waasna.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s