Goreng Ikan

Di kawasan Ciamis utara yakni Cipaku, Kawali, Rajadesa, Panjalu Jawa Barat hampir setiap keluarga memiliki kolam ikan. Umumnya memelihara dan mengembangbiakan ikan untuk dikonsumsi sendiri. Asal banyak air atau jangan kemarau panjang, umumnya kebutuhan rumah tangga akan ikan terpenuhi sudah.

Khususnya di desa saya di Cipaku ketika saya masih kecil sejak kanak-kanak sudah dibiasakan makan ikan – karena tidak ada yang lain – hanya dari ikanlah umumnya protein didapat, karena protein hewani lain seperti daging sapi dan daging ayam harganya mahal.

Ikan biasa dikonsumsi dari ukuran kecil sampai besar umumnya dimasak dengan  digoreng, tapi memang kadang-kadang juga dipepes, dipindang, bahkan disop. Karena dari kecil terbiasa makan ikan maka tak aneh kalau kemanapun, seperti saya, mengembara ke Bandung atau bahkan ke Kalimantan, ikan tidak pernah lepas. Ikannya ikan apa saja tidak peduli kecil atau besar, ikan asin atau ikan biasa, ikan laut atau ikan kolam sama saja disukai.

Nah, ketika baru-baru ini saya dan istri pulang kampung teman nasi yang harus tidak boleh alpa adalah goreng ikan. Dan oleh pribumi, adik saya, sengaja sudah disediakan goreng ikan.

Goreng ikan baby

Sekarang ini di Ciamis sedang mulai musim kemarau, dimana debit air di sungai ataupun di mata airnya mulai mengecil,  pemilik kolam ikan sudah tahu bahwa pada musim tidak turun hujan kolamnya akan mengering.

Kemudian kebetulan semua ikan dari yang masih ukuran orok atau baby ikan sampai yang lumayan besar diangkat dan dimasak sengaja menyediakan tamu yang pulang mudik. Kebetulan diantara tamu banyak yang menyukai ikan kecil yang digoreng kering renyah hampir seperti keripik.

Mengurus atau membuat goreng ikan, apalagi ikan kecil gampang-gampang susah. Yang paling leukleuk; lama adalah ketika membersihkan ikan kecil satu demi satu, kalau ratusan ikan bisa berjam-jam. Kalau bumbunya sih gampang saja saya juga sejak kecil sudah bisa.

Caranya ikan-ikan yang sudah dibersihkan ditaburi garam secukupnya, lalu diberi jeruk nipis atau beberapa tetes cuka encer, diamkan beberapa saat biar bumbunya meresap, kalau saya biasanya disimpan dulu lebih lama lebih baik, sehingga terasa meresap asam asinnya. Kemudian ikan digoreng terendam minyak yang sudah masak di penggorengan, setelah kuning baru diangkat, harusnya dimakan segera karena masih panas, renyah, dan rangup.

Sungguh, pulang mudik kali ini selain bernostalgia suasana perkampungan juga disuguhi makan dan ikan goreng sebagai lauk pauknya, sedaap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s