Kemarau Tiba, Musim Pembakaran Sampah

Saya ingin mencantumkan lirik lagu buhun (lama) yaitu pupuh Sunda bernama Magatru:

Peuyeum Sampeu

Peuyeum sampeu dagangan ti Rancapurut

Dijual dua saduit

Ditutupan daun waru

Dibungkusan daun jati

Katuangan anu ompong

(Tape Singkong

Tape singkong dagangan dari Rancapurut

Dijual dua seduit

Ditutupi daun waru

Dibungkusnya daun jati

Makanan orang yang ompong)

Daun waru, daun jati, daun pisang, sebagai pembungkus atau kemasan berbagai makanan di pasar tradisional, toserba, dan super market, pelan-pelan tapi pasti telah digantikan oleh lembaran plastik. Yang tadinya menggunakan pembungkus itu kelihatan lebih praktis, lebih higienis, dan lebih enak dipajang dan dipandang, telah menjadi hal yang mengerikan ketika menjadi sampah.

Plastik telah menjadi sampah yang mendominasi tempat-tempat pembuangan sampah baik yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun diurus oleh swadaya masyarakat. Sampah plastik juga kelihatan dimana-mana dan dituding mempunyai andil besar dalam terjadinya banjir dan terendamnya kompleks-kompleks perumahan akibat dari penyumbatan saluran-saluran air, selokan, danau penampungan, dan utamanya menghambat lancarnya aliran sungai oleh sampah plastik. Apalagi kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke saluran air belum sepenuhnya dimengerti dan ditaati.

Dimusim hujan sampah menggunung

Beberapa warga di lingkungan RT, RW, atau Kelurahan, di Kota Bandung banyak yang mengelola sampah secara swadaya. Yang dimaksud dengan swadaya masyarakat adalah hanya sebatas tempat penampungan sampah di tanah  sempit yang hanya dibatasi dengan tembok. Dan yang dimaksud dengan pengelolaan adalah hanya dengan cara dibakar.

Jika sampah domestik atau sampah rumah tangga dibagi dua yaitu sampah organik sebangsa daun-daunan dan sisa makanan, yang kedua adalah sampah anorganik yang umumnya kita kenal sebagai sampah plastik. Seyogianya sampah organik dikubur biar menjadi tanah kembali, sedang sampah plastik mau diapakan coba? tidak bisa dikelola oleh hanya dengan swadaya masyarakat, kalau juga dikubur tidak akan menjadi busuk dalam jangka yang lama dan akan tetap masih plastik.

Pengelolaan sampah secara diurus sendiri keputusannya pasti dibakar, akhirnya juga semua sampah rumah tangga baik yang organik maupun anorganik juga dibakar. Yang organik mestinya dikubur akan tetapi di kota mana ada tanah menganggur untuk tempat mengubur sampah organik itu.

Kalau tidak salah tahun 2010/2011 selama setahun di berbagai wilayah terus-terusan diguyur hujan, lalu masuk ke bulan April 2011 mulai jarang hujan dan di Bandung saat ini sedang kemarau. Selama musim hujan sampah menggunung di tempat pembuangan swadaya itu. Karena lokasi pembuangan sampah tidak beratap alias terbuka akibatnya sampah menjadi basah dan tidak bisa dikelola

Sampah mulai berkurang karena dibakar

Begitu musim kemarau sampah di penampungan mulai mengering dan kesempatan membakar sampah, karena semua sampah dibakar maka tak urung plastik pun, yang prosentasenya bahkan lebih banyak juga dibakar.

Bagi masyarakat sekitar, juga bagi yang sedang berolahraga berjalan kaki atau lari terpaksa mengisap udara yang mengandung asap bakaran dari tempat pembuangan sampah, terasa terisap kedalam paru-paru bau plastik yang dibakar, masih entah bahayanya bagi kesehatan baik untuk anak-anak maupun dewasa.

Kualitas hidup umumnya dari kita dalam hal pengelolaan sampah hanya baru sampai disitu, masih jauh dari lingkungan yang sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s