Kain Sarung Yang Multifungsi

Saya melihat gambar-gambar yang ada di buku “Album Bandoeng Tempo Doeloe” bahwa banyak pria yang bersarung atau memakai kain sarung, itu tercatat tahun 1920. Tentu budaya bersarung bagi pria bukan hal baru di tanah Pasundan, bahkan khususnya untuk orang Melayu.

Kain sarung dimaksud adalah kain yang dijahit kedua ujungnya sehingga bagian atas dan bawahnya bolong tidak berjahit biasanya berwarna maskulin yaitu hitam, biru, merah, coklat, dan coraknya kebanyakan tidak polos akan tetapi poleng.

Bersarung dari dahulu sudah menjadi trade mark-nya kaum santri. Santri pria berkopiah dan berbaju koko sedangkan santri putri berkain batik berkebaya dan berkerudung yang diletakkan begitu saja di atas kepala, bukan seperti sekarang yang biasa disebut jilbab, sangat payus (pantas) dan bisa menjadi pasangan yang serasi.

Saat ini dimasa tua tanpa dipaksa dan direkayasa sarung menempel kembali pada badan saya, kemudian saya jadi teringat jaman masa kecil dan masa mulai beger (awal remaja) ketika tinggal di kampung di daerah Ciamis sana. Semua pria dari anak-anak sampai aki-aki kalau bepergian kemana saja tidak lepas dari sarung, tapi itu saya lakukan setelah pulang sekolah.

Membawa sarung tidak berarti harus dipakai seperti mau sholat saja tapi bisa dibawa ditenteng begitu saja, diselendangkan di pundak, bahkan diikatkan di pinggang, pokoknya kemana pun sarung itu harus dibawa.

Mengapa sarung itu harus dibawa-bawa karena ternyata banyak gunanya, yang saya sebut multifungsi tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pada saat itu. Adapun kegunaan sarung itu adalah untuk berbagai keperluan diantaranya untuk menutup aurat yaitu disampingkan dari mulai pinggang sampai ke mata kaki dan sebagian sisanya digulungkan di pinggang, untuk sholat, untuk selimut kalau tidur, dan berfungsi seperti jaket biar hangat kalau udara dingin.

Cerita mengenai kegunaannya sarung masih ada beberapa lagi yaitu para petani kalau ke sawah tak lepas dari sarungnya digunakan untuk tempat perlengkapan perbekalan termasuk makanan, ududeun perlengkapan merokok), bahkan pakaian digulung dibungkuskan dan ditinggal di saung sawah.

Bagi anak-anak pada saat itu bisa dipakai sebagai perlengkapan main mialnya sarung dikurungkan ke badan, salah satu ujungnya diikatkan di kepala lalu buka dibagian mata, seperti ninja jaman sekarang. Atau hanya diikatkan saja di leher terus berlari sarung akan berkibar dibelakang kita kalau sekarang barangkali seperti superman.

Terus, sarung juga bisa dipakai sebagai parasut kala bermain renang di sungai. Cara sarung itu diikat salah satu ujungnya kemudian ujung yang satu lagi dipegang kuat sedemikian rupa terus dari tempat yang agak tinggi meloncat ke air di kali yang agak dalam, sarung akan mengembang seperti tentara meloncat dari pesawat dengan memakai parasut.

Yang terakhir adalah menggulung sarung sedemikian rupa sehingga berbentuk sebagai gada (pemukul) yang empuk, Nah si gada tersebut berfungsi untuk kelahi-kelahian saling memukul, tempatnya di masjid sesudah atau sebelum sholat ada syaratnya pertama jika guru ngaji sudah pulang keduanya jangan cengeng, sakit sedikit tak mengapa.

Pengantin sunat juga tidak lepas dari sarung, sejak pagi hari ketika disuruh mandi, saat disunat, dan sesudahnya waktu luka bekas sunat masih sakit juga memakai sarung. Akan tetapi meskipun memakai sarung tetap si sarung itu jangan menyentuh luka bekas sunat, harus memakai perantara yakni dengan menyelipkan kulit kelapa yang dibentuk sedemikian rupa kemudian dipasang dipinggang sehingga kalau berjalan ngangkang jauh si luka dari gesekan sarung.

Jaman dahulu di sekitar sawah ada kolam yang ditengah kolam dibangun saung tempat sholat, barangkali kalu sekarang disebut mushola. Nah para petani kala sampai waktunya sholat tinggal bersih-bersih badan di kolam, berwudlu, pergi ke saung kemudian memakai sarung, seluruh pakaian yang melekat dibuka, karena penuh dengan lumpur sawah dan melakukan sholat dengan hanya memakai sarung saja dan bertelanjang dada. Tapi tak mengapa bukankah aurat laki-laki mulai dari pusar sampai lutut saja. Hal itu sebetulnya sering dikritik oleh guru ngaji bahwa katanya masa menghadap Tuhan bertelanjang dada? Tapi para petani itu saya masih sering menyaksikannya tetap melakukannya, barangkali diambil praktisnya.

Ada cerita entah betul atau tidaknya bahwa para jawara jika berkelahi menggunakan senjata tajam dengan memasang sarung sebagai arena kelahinya, katanya,  sekali lagi katanya, meski sarungnya robek-robek tapi badan yang berkelahi tetap utuh tak ada luka.

Ada cerita  nakalnya yakni ronggeng sarung, katanya ketika jaman ronggeng, Laki-laki yang mengajak ronggeng menari memasangkan sarung berdua dalam satu sarung. Jadi mereka yang menari berpasangan dekat sekali, tapi katanya itu di pakalangan (arena) yang tentunya ditonton banyak orang.

Ada romantikanya remaja kecil yang mulai beger jika sedang main di halaman rumah baik petak umpet ataupun kucing-kucingan sarung digunakan untuk menangkap gadis kikindeuwan-nya (yang ditaksir) dengan menangkapnya memakai sarung.

Ada untungnya bagi yang sedang kasmaran jika bersarung dan berbaju koko serta berkopiah, bisa dinilai lebih alim, nyantri, mengerti tentang akhlak yang baik, dan pertanda rajin sholat, itu kredit poin dari  calon mertua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s