Ulat Bulu Di Pohon Sukun

Masa kecil saya tinggal di kampung, setelah menjadi seorang aki-aki kenangan hidup di desa sangat berkesan terutama pengalaman berinteraksi dengan alam khususnya di kebun. Tidak berarti bahwa mereka yang masa kecilnya di kota tidak mempunyai kenangan, bahkan mungkin bisa jadi lebih banyak.

Saat ini anak dan cucu saya hidup di kota, jadi jarang sekali pergi ke kampung. Untungnya saya memiliki sepetak kebun, yang saya berhayal, biarkan cucu-cucu saya belajar dari alam lebih leluasa seperti masa kecil saya dahulu. Sering kali anak dan cucu diajak ke kebun tersebut, sambil saya, maklum kakek banyak ngomong lagi, banyak bercerita mengenai keadaan di kebun.

Salah satu “khayalan” saya bahwa kebun tersebut merupakan laboratorium biologinya cucu-cucu saya tersebut yang saat ini masih pada kecil yang tertua umurnya baru tujuh tahun. Jika di kebun tersebut saya menemukan yang aneh maka saya sering berteriak-teriak memanggil cucu-cucu tersebut.

Sekumpulan ulat bulu

Seperti hari ini “pelajaran” biologi saya sudah sampai ke ulat bulu, bahwa siklus hidup ulat berawal dari telur, menjadi ulat, lalu kepompong, dan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang kemudian kupu-kupu itu bertelur.

Ketika saya memperlihatkan sekumpulan ulat,  salah satu cucu bahkan berlari karena takut dan geli melihat puluhan ulat yang berada di dahan pohon sukun.

Berikutnya saya menyaksikan bahwa di daun cabai rawit banyak hama yang berwarna putih, ketika pohon cabai rawit itu digoyangkan ternyata beterbangan binatang sangat kecil berwarna putih bersih (kupu-kupu?), kemudian berikutnya datang beberapa ekor capung sebagai predator menyambar kupu-kupu putih kecil tersebut. Oh, ternyata jika alam masih seimbang telah diatur sistemnya oleh Tuhan Allah SWT.

Saya ingin berteriak lagi memanggil cucu-cucu, untuk memperlihatkan kejadian kecil tersebut sekaligus sebagai pelajaran kedua setelah ulat bulu. Tapi kejadian itu sudah sore dan cucu saya sudah pada pulang ke rumahnya, terasa sepi. Mudah-mudahan lain kali pelajaran biologi di alam bisa dilanjutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s