Rumah Di Pinggir Jalan

Dahulu, sebutlah tahun 60-an memiliki rumah hunian yang terletak di pinggir jalan besar atau jalan utama atau jalan protokol adalah sebuah keberuntungan, bahkan berkelas dan sekaligus bergensi. Karena saat itu rumah yang terletak di pinggir jalan banyak dicari orang dan juga pasti mahal harganya, bahkan termasuk suatu investasi yang menguntungkan.

Mengenai investasi rumah atau tanah bahkan ada yang bilang bahwa syarat investasi rumah atau tanah itu ada tiga yaitu kesatu lokasi, kedua lokasi, ketiga lokasi. Menunjukan bahwa letak atau lokasi rumah atau tanah itu berada sangatlah penting.

Mempunyai alamat yang jelas dan singkat adalah kesannya rumah pinggir jalan dan juga bergensi misal rumah beralamat di jln Buahbatu no. 20 Bandung, atau jln Kiaracondong no. 5 Bandung, kesannya mudah dicari dan kalau dikirim surat pasti sampai.

Ketika perpisahan dengan kawan-kawan satu sekolah kejuruan, kami bertukar alamat, maklum langsung pada bekerja apalagi banyak yang berasal dari luar kota Bandung bahkan luar Jawa. Saya, karena belum punya alamat sendiri memberikan alamat orang tua saya nun di kampung sana, sebutlah alamat Kampung Ciawitali, Desa Selacai, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tidak ada nama gang, jalan, apalagi nomor rumah.

Salah seorang teman yang berjanji akan segera mengirim surat jika sudah mendapat pekerjaan, ditunggu-tunggu tidak ada kabar beritanya. Ketika beberapa tahun berselang kami bertemu, langsung saya bertanya:

“Mengapa tidak pernah mengirim surat?

Jjawabannya enteng saja: “Habis alamat apa itu, coba tidak ada nomor rumahnya yang ada nama tempat melulu, pasti ada kesalahan kamu ketika menulis alamat itu, jadi daripada surat tak sampai lebih baik tak mengirim surat saja sekalian”. Kurang ajar juga kawan akrab saya itu!

Saat ini khususnya mempunyai rumah di pinggir jalan besar, kemungkinan bukanlah suatu idaman karena lalu lintas siang malam demikian sibuk dan padat. Pertama akan bising dengan suara deru kendaraan bermotor, kedua demikan kentalnya polusi udara akibat gas buang dari knalpot, ketiga khawatir dengan keselamatan takut ada mobil tiba-tiba nabrak rumah, keempat sukarnya menyeberang jalan biarpun hanya untuk sekedar berkunjung ke rumah tetangga seberang rumah. Dan ini, sekedar untuk menyimpan kendaraan di depan rumah hanya sebentar sekalipun sudah menyebabkan kemacetan kendaraan, dan tak henti-hentinya diklaksoni orang.

Eh, ternyata saat ini enakkan beralamat di Kampung Ciawitali, Desa Selacai, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, ya? Karena tidak ada bising, tidak ada polusi, tidak susah parkir kendaraan (meski hehehe, harus berjalan kaki agak jauh).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s