Kota Tua Batavia, Café Batavia

Diantara gedung lama yang berada di kota tua Batavia terselip bangunan  tempo dulu yaitu Café Batavia. Seperti telah ditulis terdahulu bahwa saya dan keluarga pada awal Juni 2011 mengunjungi kota tua Batavia. Karena saat itu hari libur maka museum tutup, satu-satunya yang terbuka adalah Café Batavia. Nah, anak sulung saya mengajak untuk masuk ke café katanya biar tahu suasana di dalamnya.

Pendek cerita kami sepakat untuk masuk café tersebut, tapi karena hanya sekedar ingin tahu suasana di dalamnya maka setelah memesan tempat dan kebetulan ada meja masih kosong di lantai satu, dan untuk sekedar “alasan” duduk di cafe itu, kami memesan minuman saja. Anak saya memesan beberapa gelas minuman dan kemudian “memaksa” saya untuk mencoba cappuccino, rasanya lumayan enak tapi satu cangkir harganya Rp 34.000.

Saya dan anak saya secara bergantian membuat foto bagian dalam café dimana dinding café tersebut dipenuhi dengan foto-foto zaman dahulu. Bahkan saking banyanya foto jadul itu sampai dipasang di dinding kamar toilet. Sebagian terlihat foto artis lama luar negeri berfoto setengah telanjang.

Inilah foto-foto cafe yang sempat kami buat:

Emperan luar Cafe Batavia

Di Bagian luar Café Batavia banyak pengunjung yang duduk-duduk untuk menunggu giliran masuk?

Pintu masuk Cafe Batavia

Pintu masuk cafe Batavia

Dari pintu ini masuknya

Sebuah keterangan mengenai Cafe Batavia

Ada catatan yang ditulis pada plakat logam di pintu masuk dengan tulisan sbb:

“This historic building was erected between 1805 and 1850 and is the second oldest building on Fatahillah square.

The upstair grand salon constructed entirely of Java teak wood, was added in the late 19 th century. The building’s original masonary tacade is best viewed from this room.

Steel was used in the building for the first time during its 1992 – 1993 restoration. The glass conservatory was added at this time, completing the return to the café’s 1937 elegance.

Di dalam ada tambahan keterangan bahwa:

Majalah Newsweek edisi 31 Oktober 1996 memasukan Churchil Bar, di lantai 2, kedalam suplemen “The World Best Bar”

Tangga ke lantai 2 Cafe Batavia

Dinding tangga juga dipenuhi tempelan gambar orang terkenal zaman dulu.

Dinding cafe penuh dengan gambar tempo dulu

Ada kelihatan terselip foto Bung Karno

Meja bar di lantai dua

Di lantai atas ada meja bar antik, juga di meja-meja yang berada di lantai dua cafe ini kelihatan secara eksklusif berkumpul sesama turis manca negara yang lagi bercengkrama menikmati taman Fatahillah.

Demikian kunjungan kami di Café Batavia yang hanya memesan minuman saja padahal jam sudah menunjukan jam 14:00 itu sudah saatnya makan siang. Tentunya makan siang tidak cukup hanya dengan minum cappuccino saja bukan?

Kebiasaan istri saya dan saya kalau berwisata dengan keluarga selalu mempersiapkan dan membawa makanan, biasa makanan khas Sunda kali ini ada nasi timbel, sambal goreng ikan asin sepat, lalapan, daging hamburger (ini untuk cucu), dan ikan mas acar kuning. Di taman Fatahillah tidak ada fasilitas untuk makan lesehan, apalagi numpang makan di Café Batavia, kemungkinan besar akan diusir hehehe.., maka akhirnya hari itu kami makan siang dengan botraman (makan ria bersama) sambil lesehan di Pantai Ancol.

Selesai..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s