Kota Tua Batavia, Museum Fatahillah

Sudah lama anak bungsu saya yang tinggal di Jakarta mengajak saya dan ibunya yang tinggal di Bandung, untuk melihat-lihat kota tua Batavia, tapi belum menemukan waktu yang tepat yaitu harus pada hari libur agar anak sulung sekeluarga, yang juga tinggal di Jakarta, bisa turut serta. Biasanya kebahagiaan puncak saya sebagai seorang kakek adalah kalau piknik atau rekreasi disertai oleh anak mantu dan cucu.

Akhirnya melihat kota tua Jakarta terlaksana juga yaitu pada saat long week end dengan adanya hari libur tanggal 2 Juni 2011 hari kenaikan Yesus Kristus ditambah cuti bersama, jadi liburnya cukup panjang karena digabung mulai hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Meski libur panjang ternyata  dua cucu saya yang tinggal di Cimahi tidak bisa turut serta.

Ternyata sayang seribu sayang pada hari libur tanggal 2 Juni 2011 itu Museum Fatahillah tutup, juga Museum Bank Mandiri yang sangat ingin anak saya pertunjukan kepada saya. Mungkin lain kali saya sangat ingin datang kembali ke sini.

Cerita mengenai kunjungan saya ke kota tua Jakarta akan saya bagi dalam beberapa  tulisan maklum kalau posting di blog ceritanya terlalu panjang, pembaca akan cepat lelah dan bosan.

Saya yang seperti si Kabayan dari kampung datang  ke kota, terbengong-bengong melihat kota tua Jakarta, ternyata banyak bangunan telah diupayakan untuk dipelihara dan gedung-gedung tua itu dijadikan cagar budaya, selamat untuk DKI Jakarta, tetaplah dipelihara!

Inilah gambar-gambar Museum Fatahillah yang pertama kali saya lihat dan sangat menarik, hanya foto dari luar, karena Museumnya tutup, harap maklum tustelnya sangat sederhana jadi gambar yang tersaji ala kadarnya saja

Bagian atas gedung ada tulisan

Saya penasaran tulisan di atas gedung itu apa sih? ternyata berbunyi “GOUVERNEURSKANTOOR”. Gedung ini dahulu bekas Balai Kota (Stadhuis) dibangun 304 tahun yang lalu yaitu tahun 1707 – 1710, ternyata bangunan lama banyak berbicara kepada anak bangsa.

Bangunan inti Museum Fatahillah

Bagian induk Museum Fatahillah

Bagian kanan Museum Fatahillah

Sayap kanan Museum Fatahillah

Bangunan kiri Museum Fatahillah

Sayap kiri Museum Fatahillah

Museum Fatahilah

Museum Fatahillah dilihat dari sayap kiri bangunan

Keliling-keliling kota tua Jakarta beserta anak cucu sungguh mengasikan, saya sempat menyewa sepeda ontel. Naik sepeda ontel bagi saya adalah nostalgia masa awal tahun 1960 ketika masih sekolah di SMP di kampung setiap hari naik sepeda ontel menempuh jarak 8 Km. Sewa satu sepeda ontel ditambah topi zaman doeloe sebesar Rp 10.000 secapeknya, sekenyangnya.

Menyewa sepeda ontel

Kami berkeliling kota tua sampai berkeringat, ternyata pada hari libur, kota tua Jakarta ini banyak pengunjungnya yang paling banyak adalah turis domestik, dan kelihatan juga turis asing, dimana para “bule” itu pada ngumpul bersantai mengenang masa kejayaan VOC  di lantai dua Café Jakarta.

Kemudian istri dan mantu perempuan jajan es potong yaitu es panjang yang dipotong-potong kemudian ditusuk sepotong bambu sebagai pegangan tentu saja di panasnya kota Jakarta memakan es lilin sangatlah enak, tapi makan esnya sambil bersembunyi karena cucu saya yang satu sedang sakit yaitu amandelnya agak bengkak, jadi jangan sampai tahu ibunya sedang happy dengan esnya. Sebagai gantinya dua cucu saya mendapatkan jajanan roti kebab.

Disambung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s