Takut Bertutur Bahasa Sunda Karena UUBS

Dahulu semasa saya masih kecil di tempat kelahiran saya di Ciamis utara bertutur bahasa Sunda adalah biasa dan sudah lumrah. Tidak ada yang mempersoalkan tatakrama atau undak usuk basa Sunda (UUBS), kala berbicara bahasa Sunda tidak perlu berpikir banyak, jika diperlukan bertutur halus terhadap orang tua, guru, dan yang perlu dihormati, otomatis saja bahasa Sunda keluar dalam ragam bahasa halus. Demikian juga jika harus mempergunakan bahasa untuk orang lain dan untuk diri sendiri berjalan begitu saja berbicara dengan lancar. Hal ini disebabkan karena bahasa pengantar di sekolah dasar (dahulu SR) adalah bahasa Sunda dimana guru dan orang tua selalu mengajarkan bertutur bahasa Sunda yang baik. Demikian juga ketika masuk SMP bahasa Sunda diajarkan dengan lancar tidak menemukan masalah penggunaan bahasa.

Ketika tahun 60-an saya mulai merantau ke Bandung menemukan hal-hal yang beda, pertama mulai dalam komunikasi kadang menggunakan bahasa Indonesia itu bisa dimaklumi karena mulai berinteraksi dengan suku lain yang tidak mengerti bahasa Sunda. Keduanya hal yang membuat saya agak heran adalah banyak keluarga yang ibu dan bapaknya orang Sunda dan sangat baik bertutur bahasa Sunda, tapi anak-anaknya sesama saudara menggunakan bahasa Indonesia. Ketika masih di kampung penggunaan bahasa Indonesia sangat jarang dan itu dianggap tidak sopan dan sombong apalagi kalau berbicara bahasa Sunda dicampur bahasa Melayu disebut direumbeuy atau kamalayon.

Baru beberapa tahun kemudian hidup di Bandung saya agak mengerti mengapa ada yang dengan saudara sendiri yang notabene keluarga orang Sunda bertutur bahasa Indonesia. Alasannya, ini menurut saya, karena merasa tidak pantas atau kagok kalau berbicara bahasa Sunda halus dengan saudara sendiri, masa dengan saudara dekat harus bicara bahasa Sunda halus, bukankah umur tidak jauh berbeda, bahkan saudara juga adalah teman bergelut, masa harus menggunakan bahasa halus. Demikian juga jika berbicara bahasa Sunda kasar dengan saudara sungguh merasa tidak sepantasnya bahkan bisa-bisa disebut tidak tahu sopan santun. Makanya memakai bahasa yang netral saja yakni berbicara bahasa Indonesia yang tidak ada UUBS seperti berbicara bahasa Sunda.

Yang kemudian terjadi adalah saya melanjutkan pengembaraan ke pulau Kalimantan, saya bekerja dan hidup di sana selam 23 tahun. Tentu saja jarang sekali menggunakan bahasa Sunda kecuali kalau bertemu dengan sesama orang Sunda di paguyuban. Makin terasa, karena tidak biasa terlatih bertutur kata dengan bahsa Sunda, kemampuan berbahasa Sunda saya menurun drastis. Terutama semakin susah menggunakan UUBS jika berbicara dengan orang “biasa” dan orang yang perlu dihormati setidaknya dengan yang umurnya lebih tua.

Saya mulai merasa bahwa ternyata seperti pernyataan sastrawan dan budayawan kondang Bapak Ajip Rosidi bahwa undak-usuk itu artinya panta-panta (membeda-bedakan) dalam menggunakan kata halus-kasar sewaktu bertutur dalam beberapa hal ada benarnya. Yang dimaksud panta-panta itu, kata Ajip, membeda-bedakan manusia sesuai dengan tinggi rendahnya martabat manusia seperti di zaman kolonial-feodal. Selanjutnya Ajip berpendapat mendingan dihilangkan saja pandangan dan sikap begitu (UUBS) sebab tidak sesuai lagi dengan kehidupan di alam demokrasi. Adapu carannya adalah dengan tidak memperhatikan lagi undak-usuk bahasa itu.

Tentu saja karena tradisi bertutur bahasa Sunda dengan UUBS sudah berurat berakar pada budaya Sunda, tidak semudah itu untuk sepakat dan tiba-tiba merubahnya dengan idenya Kang Ajip. Bahkan saya sendiri masih merasa tidak srek dengan bahasa biasa, seperti dianjurkan Bapak Ajip Rosidi, rasanya telah berperilaku tidak sopan jika berbicara bahasa biasa dengan orang yang lebih tua dari saya.

Menggunakan bahasa Sunda tidak disebut bertutur halus, meskipun menggunakan UUBS,  jika tidak memperhatikan unsur-unsur yang menyertainya seperti gaya bercerita, intonasi, tampilan mimik wajah, geraknya badan, dan cara berpakaian.

Untuk jalan tengahnya barangkali ada baiknya memperhatikan dua Ragam/Tahap berbahasa Sunda.  Ini sebagaimana putusan Kongres Internasional Bahasa Sunda I dan Kongres Bahasa Sunda VII  yaitu:

  1. Ragam Bahasa Hormat, asal tujuannya yang berbicara itu mau menghormat kepada yang diajak bercerita gunakan bahasa yang tidak memakai UUBS, jadi menurut sebagaimana pendapat Kang Ajip
  2. Ragam bahasa Akrab, ini bahasa biasa yang umumnya disebut bahasa Sunda kasar

Dengan demikian mudah-mudahan bahasa daerah seperti contoh bahasa Sunda tidak hilang sirna begitu saja, keduanya semoga anak-anak SD/SMP yang mendapat pelajaran muatan lokal Bahasa Sunda tidak terlalu sulit memahaminya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s