Pensiunan, Jangan Lupa Pekerjaan di Rumah

Yang menjadi tua bukan hanya saya akan tetapi juga pasangan hidup yaitu istri saya. Demikian juga yang sering menderita penyakit karena tua atau degeneratif (penyakit yang mengiringi proses penuaan) bukan hanya diderita saya sebagai pensiunan akan tetapi juga diderita oleh istri saya. Jadi yang mengeluh berkurangnya penglihatan, pendengaran, reflek, bahkan kepekaan pikiran dan perasaan dirasakan juga oleh istri saya.

Ketika saya masih bekerja saya cenderung dikaulaan (dilayani) terus oleh istri dalam berbagai hal termasuk didalamnya mempersiapkan makan, pakaian, mengurus anak, belanja, dan sebagainya, seolah-olah saya tidak tahu menahu urusan pekerjaan rumah. Karena saat bekerja habis dipakai tugas-tugas dalam menjalankan pekerjaan di kantor, dan tak henti-hentinya mengejar target dan karir.

Nah, ketika usia sampai 55 tahun dan saya hampir selalu berada di rumah, ketika diamati mulai kelihatan “kesibukan” istri saya yang telah saya sebutkan tadi bahwa kondisi prima fisik maupun psikis mulai menurun, sekali lagi bukan hanya saya akan tetapi juga istri saya. Jadi sudah saatnya saya dan istri pada saat tua begini harus saling ngaulaan (melayani).

Ternyata pekerjaan di rumah yang tadinya menjadi “tanggung jawab” istri saya, meskipun anak-anak saat ini sudah tidak lagi serumah, mulai kami garap berdua. Bermacam pekerjaan rumah dari pagi sampai malam hari saya sebutkan di sini mulai dari membuka hordeng jendela dipagi hari, menyapu lantai, mengepel, belanja, memasak, mencuci piring, nyuci pakaian, menjemur, nyetrika, dan seterusnya sampai tidur di malam hari.

Dalam rangka ekspansi pekerjaan rumah termasuk pekerjaan di dapur ternyata saya perlu banyak menyesuaikan diri karena pemilik wilayah yang diekspansi bukan lahan kosong ada pemiliknya yakni istri saya. Memahami kemauan istri saya dalam mengelola teritorialnya perlu permakluman dan kebesaran hati (sebetulnya tak begitu-begitu amat kale!) dari diri saya sendiri.

Saya ingin memberi beberapa contoh bahwa membantu istri bekerja di dapur tidak sesederhana yang diduga, seperti dimana meletakkan barang atau peralatan dapur agar tidak sembarangan saja akan tetapi harus dikembalikan ke tempatnya semula. Demikian juga nyapu, ngepel, mencuci, nyetrika, dan pekerjaan rumah lainnya betul-betul harus mengikuti kemauan dan prosedur yang sudah berlaku lama dari komandan.

Kalau kita sadar bahwa segala sesuatu pekerjaan dilakukan dengan sabar dan tawakal (walah!) maka lama kelamaan akan terasa kenikmatan hidup dimasa tua dan bersama-sama menjadi tua dengan pasangan hidup yakni istri sendiri.

Prinsipnya bahwa kalau tidak kita yang mengelola pekerjaan rumah dengan baik, siapa lagi?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s