Lansia Harus Memberi Keteladanan

Dalam undang-undang tentang kesejahteraan lanjut usia, bahwa lansia mempunyai kewajiban, karena sudah gaek kewajibannya irit saja hanya tiga  yakni:

  1. membimbing dan memberi nasihat secara arif dan bijaksana berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, terutama di lingkungan keluarganya dalam rangka menjaga martabat dan meningkatkan kesejahteraannya;
  2. mengamalkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan, keahlian, keterampilan, kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada generasi penerus;
  3. memberikan keteladanan dalam segala aspek kehidupan kepada generasi penerus.

Saya hanya akan membahas khususnya butir ke 3 yaitu keteladanan dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini saya ingin memberikan contoh tentang seseorang yang kebetulan saya kenal dekat. Beliau yang sudah almarhum, meninggal pada usia 82 tahun, adalah seorang purnawirawan Kepolisian, pangkat terakhir adalah Brigjen (ada sebutan lain untuk pangkat itu ya?).

Beliau yang rajin membaca, berpengalaman luas, ide-idenya selalu segar. Pada setiap pertemuan dengan siapapun selalu bercerita atas pengalaman dan pandangan-pandangannya di segala aspek kehidupan pada saat kini. Beliau yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda secara fasih, sering juga membagikan pengalamannya ketika mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri.

Cara beliau memberikan keteladanan adalah dengan tetap bersemangat hidup,  memberikan nasihat-nasihat tentang segala kebaikan dan mengutamakan mendorong generasi penerus untuk berbudi pekerti dan berakhlak yang baik. Beliau yang sampai usia 82 tahun tidak pernah pikun, pada saat terakhir masih bisa mengemukakan pendapatnya tentang Ahmadiyah.

Beliau yang hidup sederhana pada usia pensiunnya memberikan teladan kepada penerusnya bahwa beliau selama masa dinas di Kepolisian itu, tidak pernah melakukan korupsi.

Saya kira inilah contoh bagi generasi penerus yang penting, jangan melakukan korupsi! Sebab bagaimana akan memberikan contoh yang baik jika ketika masa dinas menjadi pelaku korupsi. Jika kita bukan koruptor maka ketika dipanggil oleh Yang Maha Kuasa kita dalam keadaan akhir yang baik.

Inalillahi waina illaihi roziun, selamat jalan Pak Jenderal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s