Sampah dan Sungai Cidurian

Olah raga jalan kaki kali ini saya menyusuri sungai Cidurian yang mengalir di Bandung itu tidak ke arah hulu seperti kemarin-kemarin akan tetapi berjalan dari mulai jln Soekarno Hatta ke arah hilir. Seperti biasa pada kesempatan ini saya juga berjalan hanya selama satu jam.

Keruh sungai Cidurian

Semalam habis hujan yang cukup besar, sehingga air kali Cidurian ini kelihatan menguning karena lumpur, nampaknya warna air sungai ini sangat tergantung dari apa yang dibawanya kadang berwarna hitam pekat, kadang juga  memerah. Tergantung dari limbah yang dibuang ke dalamnya, kasihan kau sungai! Cai kahuripan, mari kita pelihara! Karena habis disapu air sungai yang deras pagi ini tidak kelihatan sampah di sungai, mungkin sampah tersebut mengumpul di bagian hilir yaitu Bandung Selatan.

Sepanjang tepi sungai yang dilewati, kalau tidak salah wilayah ini termasuk Kecamatan Rancasari Bandung, rumah-rumah lumayan tertata rapih, banyak ditemukan pepohonan, dan juga tidak ditemukan bekas-bekas pembuangan sampah ke sungai.

Sampah menumpuk dan menimbuni tempat pembakaran

Pantas penduduk tidak membuang sampah ke sungai, karena di lokasi ini terdapat tempat pembuangan sampah umum. Bukan hanya tempat pembuangan sampah saja akan tetapi juga ada tungku pengelolaan sampah sepertinya dengan cara dibakar.

Tapi nampaknya tempat pengelolaan sampah ini sudah lama tidak terurus, boro-boro dipergunakan  bahkan tungku tempat pembakaran sampahnya pun kini merana tertimbun sampah sendiri. Barangkali niatnya baik akan tetapi pemeliharaannya perlu kemauan keras dan tentu tersedianya dana, kalau dari swadaya nampaknya penghuni merasa tidak mampu, kumaha atuh?

7 thoughts on “Sampah dan Sungai Cidurian

  1. betul , di kawasan ini semestinya menjadi hutan kota, anehnya ada bangunan warna jingga yang berdiri kokoh megah, herannya bisa memopunyai listrik. Bukankah PLN hanya boleh memberi listrik jika ada IMBnya, kalau ada IMBnya siapa yang memberi izin? Belum lagi deretan rumah kos kosan, dan ada yang baru berdiri rumah non permanen dan kumuh, lama kelamaan bangunan gubuk menjadi semi permanen dan nantinya jadi permanen. Seharusnya jalan merkuri timur dan belakang Al Islam rumah sakit tidak boleh didirikan bangunan dan usaha. Kadang pemukim liar membuang sampah ke kali.

  2. Harapan bersama agar sungai dengan sempadannya tetap terpelihara untuk kehidupan masa mendatang

  3. sempadan sungai di merkuri timur yang ada tenpat sampah dan tungkunya sekarang nambah bangunan baru lagi ya. padahal klo pemerintah setempat emangserius, masih bisa dicegah. Malah ada yang bikin bangunan liar baru, sepertinya tukang besi bangunan, ada pkl, ada gudang, ada rumah kost mentereng, pohon-pohion besarnya malah ditebangi, knepa ya didiamkan saja. udha jelas klo ada bangunan dan gudang pstinya mereka ikut bikin tercemar , alias buangs ampah di situ juga. katanya ini tempat yang pernah dapet penghargaan , kenapa pinfggiran kalinya dibiarkan saja, pdhal klo habis olahraga di makro banyak yg jalan kaki olahraga lewat sini, herannya kok gak ditata sih …….malah kumuh , padahal ini kan jalan nnya sering dilewatin klo pulang kerja, pulang sekolah, tpi malah diantepin…..

  4. Sampah yang tak terurus itu milik RW 4, Kecamatan Manjahlega , Rancasari. nominator Bandung Green Clean 2011.

  5. RW04 Kelurahan Manjahlega kecamatan Rancasari , adalah juara Umum Bandung Green And Clean tahun 2011 bukan nominator.

  6. Syukur menjadi juara umum Bandung green and clean mudah-mudahan menjadi motivasi bagi penduduk yang belum sadar akan pentingnya hijau dan bersih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s