Bercermin

Pada tahun 1964 saya sempat menjenguk saudara sepupu yang sedang mengikuti pendidikan tentara yang bernama Secaba (Sekolah calaon bintara) alamatnya di sekitar jalan Gudang Utara Kota Bandung, di gerbang ke luar tergantung cermin besar dimana yang lewat bisa melihat sekujur tubuhnya. Saya tidak begitu tahu apakah di setiap instansi militer di pintu keluarnya ada cermin semacam itu, atau hanya di kesatrian pendidikan saja. Kegunaannya agar semua yang keluar melewati pintu itu bisa bercermin dahulu apakah pakaian sudah rapih? topi, baju, celana, ikat pinggang, tanda pangkat, tanda jasa, dan juga sepatu, apakah kesemuanya sudah terpasang dengan sempurna? maklum kerapihan berpakaian juga adalah salah satu disiplinnya.

Bercernin adalah kebiasaan setiap orang terutama kaum wanita, kalau kaum pria sih .. sama saja. Di rumah setidaknya ada satu cermin untuk seluruh anggota keluarga untuk bercermin melihat, setidaknya, bagian muka jangan sampai ada sesuatu yang tidak pantas ada terletak di situ, atau yang palin utama setelah melihat muka adalah langsung ke rambut. Fungsi cermin adalah untuk melihat muka, rambut, pakaian, bahkan hiasan muka untuk perempuan, agar kelihatan sesuai dengan selera masing-masing yang diharapkan.

Kalau sebelum bepergian kita sudah kenyang bercermin, dan merasa itu tidak cukup bisa bercermin diteruskan di perjalanan, bisa di kaca jendela rumah orang, di kaca mobil yang sedang lewat, di kaca etalase toko, di toilet mall, bahkan di kacamata orang lain. Yah kita bisa bercermin dimana bisa mematut-matutkan diri peduli jelas atau tidaknya asal ada pantulan badan kita sukur kalau seluruh nya minimum muka sudah puas lah. Bahkan kalau belum puas bercermin bisa membawa kaca kecil di tas, ini yang khas perempuan, kalau laki-laki aneh kali!

Kalau bercermin kapan dan dimana saja jika di pagi hari sambil menatap diri kita juga bisa berencana dan niatkan melakukan hal-hal kebaikan di hari ini. Jangan melakukan hal-hal yang berjauhan dengan norma-norma masyarakat umumnya juga norma-norma agama.

Bercermin juga bisa sambil melihat diri kita telah melakukan perbuatan apa saja pada hari kemarin, apakah perilaku kita sepanjang hari kemarin telah banyak menyakiti hati orang lain termasuk yang paling dekat orang tua, istri, suami, anak-anak, bahkan tetangga dan teman sekerja?

Cermin bisa memantulkan cahaya atau gambar, demikian juga mengukur perlakuan kita terhadap orang lain. Seperti pantulan cermin yang bolak balik kita juga harus sempat berpikir apakah perlakuan kita terhadap orang lain sudah baik atau tidak membuat sakit hati?  Ukuran mudahnya adalah jika orang lain melakukan perlakuan yang serupa terhadap diri kita apakah kita merasa senang atau sakit hati? Tentu kita pun tidak akan melakukan hal serupa kepada orang lain karena hal itu akan menyakitkan.

Bercermin juga bisa melihat diri ketika kita flash back ke masa lalu ketika kita berumur sekian. Contoh sederhana adalah ketika kita mendidik anak usia 6 atau 7 tahun apakah kita tidak berlebihan, seyogianya kita bercermin kepada saat kita  berumur 6 atau 7 tahun, kita tidak istimewa-istimewa amat bukan? Jadi ketika bercermin ke masa lalu kita akan mengukur kemampuan seorang anak. Kita insya Allah akan menjadi lebih arif dan bijak.

Begitulah seyogianya kalau kita bercermin, banyak cerita dan banyak inspirasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s