Antara Anak dan Orang Tua

Sikap orang tua kepada anaknya kadang berlebihan. Anak harus begitu dan anak harus begini. Orang tua merasa telah berjasa membesarkan anak-anaknya. Itu terus menerus dipompakan terhadap anaknya dari mulai usia balita sampai dewasa dan terus sampai orang tua tersebut meninggal. Dan oleh karena alasan orang tua telah susah payah membesarkan, maka anak oleh karena itu wajib berbakti, menurut, dan hormat kepada orang tua.

Saya mungkin termasuk orang yang paling “kurang ajar” dalam menyikapi hal ini. Menurut saya anak dilahirkan betul memang kehendak kita tapi sebagian lagi tidak kita rencanakan. Sebetulnya hubungan suami istri bukan selalu ingin supaya punya anak, malah sesungguhnya kebanyakan hanya dorongan libido, rutinitas sebagaimana hubungan suami istri. Berikut kalau mau main “kasar-kasaran” si anak kan tidak mau dilahirkan lewat rahim siapa, hanya kebetulan saja lewat kita dan jadilah kita orang tuanya.

Dan dari semua itu, ini yang paling penting si orang tua mempunyai buah hati, punya curahan kasih, punya cocooan (mainan) yang tidak mau ditukar dengan apapun. Masih ingat kejadian anak Risa yang diculik oleh sekelompok orang yang jahanam. Betapa perhatian seluruh orang tua, termasuk perhatian presiden SBY yang seorang presiden. Jadi buat orang tua ini bukan susah payah mempunyai anak itu akan tetapi suatu kebahagiaan yang selalu disyukuri, selalu didoakan, selalu dibanggakan.

Berikut secara naluri kemanusiaan dan kebinatangan memang oleh Yang Maha Kuasa kita telah diberi naluri mendasar menyayangi anak, sepanjang masa lagi dari mulai anak lahir sampai si orang tua wafat. Tapi sebetulnya orangtua telah mendapatkan “tukarnya” yaitu buah hati, curahan kasih sayang, kebanggaan, dan lain sebagainya. Memang iya kadang terasa merepotkan, tapi itu kan resiko dari memiliki sesuatu yang disayangi.

Kalau mempunyai anak merupaka pekerjaan berat dan menyusahkan, ternyata kita pun telah “memberatkan dan menyusahkan” orang tua kita dahulu. Dan inilah terakhir bahwa memelihara atau memiliki anak bukan pekerjaan luar biasa yang telah kita lakukan, sebab anak kita pun kelak akan “diberatkan dan disusahkan” oleh anak-anaknya. Jadi jelasnya kita semua sama-sama mengurus anak, kata kasarnya – apa istimewanya kita sebagai orang tua.

Ini yang akan dikedepankan oleh saya bahwa tak perlu merasa paling berjasa membesarkan anak-anak, karena kita hanya menjalankan naluri yang telah diberikan Allah SWT. Tapi memang anak harus timbang kasih kepada orangtuanya, biar apa? supaya hidup ini bahagia, Orangtua sayang kepada anaknya dan anak juga harus sayang kepada orang tuanya. Terus begitu jika estafet hidup ini masih diberikan oleh Sang Maha Pemberi Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s