Perkawinan, Jangan Pernah Berpikir Untuk Bercerai

Terpaksa saya menggunakan pantun bahasa Sunda:

Sing asak-asak nya ngejo bisi tutung tambagana,

Sing asak-asak nya nenjo bisi kaduhung jagana

(Terjemahan bebas: Jika menanak nasi harus sampai masak, nanti gosong tembaganya, Harus tajam dalam memilih biar tidak menyesal nantinya)

Artinya kalau kita memilih pasangan hidup harus betul-betul menilainya, melihatnya, tak salah menggunakan cara orang tua dahulu bibit, bobot, dan bebet. Sebab jika layar sudah berkembang pantang kita surut kembali.

Ketika sudah melakukan perkawinan yang selanjutnya berumah tangga, dan mempunyai anak, syukur alhamdulillah kalau bahagia, jika kurang-kurang sedikit harus diterima dengan segala keihlasan. Jangan sekali-kali memilih bercerai penyelesaiannya. Ingat kita diberi amanah anak oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Memilih suatu perkawinan  adalah jibaku mengendalikan segala ego dalam berumah tangga, bukan kalah menang akan tetapi bersama-sama mengarungi suka duka, bahkan pahit getir dirasakan berdua. Terutama biasanya suami jangan sampai mencari lagi pasangan lain untuk istri kedua, karena kesempatan sing asak-asak nya nenjo bisi kaduhung jagana sudah berakhir.

Saya mempunyai cerita tentang kerabat saya yang maaf sekaligus keparat! saking jengkelnya, karena tergoda seorang gadis kemudian dia kawini, dan berikutnya ketahuan oleh istri pertama, sang istri meminta cerai karena janjinya juga tidak dengan dimadu. Karena si istri meminta cerai maka dia menganggap istrinya yang bersalah, tidak diberi hak untuk mengasuh anak, ketiga anaknya dibawa bersama suaminya. Saya melihat korban pertama adalah anak-anak yang, si suami juga pekerjaannya setengah menganggur, untung bisa dibantu oleh neneknya anak-anak yang perekonomiannya juga pas-pasan. Saya betul-betul sedih melihat nasib anak umur dua tahun dipisahkan dari ibunya. Inilah korban perceraian.

Jadi karena sudah matang ketika sedang memilih dan memilah calon istri maupun calon suami, ketika sudah cocok lalu berumah tangga, jangan menurutkan hawa napsu sendiri, sehingga kita menanggung dosa bertubi-tubi dengan menelantarkan anak yang entah bagaimana kelak besarnya karena mendapatkan trauma berkepanjangan akibat orang tuanya bercerai.

Setia kepada pasangan, satu kali nikah, selamanya karena anak-anak adalah tanggung jawab suami dan istri yang hebat dan Allah akan ridha, insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s