Peristiwa Lawas, Gerombolan Pengacau Membakar Rumah Saya

Saya kadang merasa ragu apakah dengan menulis pengalaman pahit ini ada gunanya atau tidak? Apa lagi peristiwanya demikian sudah lawas, sudah lama, dan itu jaman saya masih kecil. Tidak nyambung sama sekali dengan zaman sekarang yang sudah beda situasi dan kondisinya, yang sudah tidak mempersoalkan zaman lalu, yang tentu saja zaman dahulu semua orang pernah mengalami masa-masa pahit dan masa-masa menyedihkan. Akan tetapi saya takut peristiwa tersebut akan hilang begitu saja, padahal betul-betul terjadi dan saya alami. Oleh karena itu biarkan saja akan saya tulis,  soal manfaat bagaimana nanti saja, siapa tahu kelak ada seseorang yang menulis lagi hal yang sama, kemudian menyambung dengan cerita saya.

Kejadiannya 58 tahun yang lalu ketika itu saya masih berumur 7 tahun masih sekolah di SD (SR) kelas satu, saat ini umur saya sudah 65 tahun, jadi sudah lama sekali. Tempatnya di salah satu kampung di wilayah Kabupaten Ciamis dekat dengan kaki gunung Sawal. Saat itu adalah zaman kacau, saat kecil saya selalu menyebutkan gerombolan pengacaunya adalah DI/TII, dan cukup menyebut dalam bahasa Sunda dengan sebutan gorombolan saja.

Nah si gorombolan ini, yang jahat ini, selalu mengganggu keamanan dan ketentraman rakyat, mereka tidak segan-segan menteror, merampok harta benda, membakar rumah, bahkan membunuh laki-laki dewasa yang barangkali dianggap menghalangi “perjuangan” mereka.

Kembali ke peristiwa saat itu, pada malam itu, dan juga hampir setiap malam Bapak saya dan juga mereka laki-laki yang sudah dewasa tidak lagi berada tidur di rumah, akan tetapi mengungsi ke tempat aman di sekitar perkampungan tempat kami tinggal. Malam-malam saat itu, Bapak saya mengetuk dari luar dan berbisik, karena dindingnya dari anyaman bambu,  bahwa ada laporan adanya gorombolan sedang berada di kampung tetangga sebelah, sebut saja kampungnya di Cicanggong, memerintahkan kepada Ibu saya agar jangan terlalu lelap tidur, dan siap-siap untuk jika semakin genting untuk keluar dari rumah dan bersembunyi.

Saya tidak tahu mengapa Ibu saya ketiduran, mungkin karena merasa bahwa kampung Cicanggong cukup jauh dari rumah kami, dan seperti yang sudah-sudah “laporan” dari Cicanggong si gorombolan tidak akan sampai ke kampung kami. tapi ternyata sekali ini dugaan Ibu saya meleset,  dan ternyata begitu kami terbangun rumah tetangga sudah terbakar dengan kelihatan terang dari luar dan suara bergemuruh sebagaimana kalau suara kebakaran. Ibu saya langsung bangun dari tempat tidurnya, kemudian adik bungsu dan kakaknya yang masih umur 3 dan 1 tahun digendong dirangkapkan oleh ibu saya, kemudian saya yang usia 7 tahun disuruh menuntun adik saya yang dua tahun lebih muda.

Baru juga kami menginjakan lantai tanah dapur, terdengar pintu ditendang dari luar dan 2 orang gorombolan masuk, dan masih ingat sampai sekarang, dia bertanya:

“Mana Bapak?”

Ibu saya sambil mengigil menjawab: “Ke Masjid!”.

Dan si gorombolan menyorotkan lampu senter ke muka Ibu kemudian meminta anting-anting emas yang kebetulan dipakai Ibu saya. Setelah anting-anting diberikan terus dia memerintah:

“Keluar! rumah akan dibakar! katanya.

Kami segera angkat kaki, dan belum jauh dari rumah hanya sekejap rumah kayu kami sudah dibakar dan berikutnya langsung menjadi lautan api bersatu dengan rumah tetangga yang lain.

Pendek cerita demikianlah hidup kami menjadi lebih miskin dan semua perlengkapan sekolah termasuk batu tulisnya, sabak, dan pensil gerip-nya  terbakar ludas, apalagi pakaian tiada tersisa sama sekali. Akhirnya kami, nyiruruk di rumah nenek yang tidak jauh dari rumah kami yang terbakar.

Itulah kenangan mengerikan, dan trauma dari sejak kecil sampai sekarang masih menempel.

18 thoughts on “Peristiwa Lawas, Gerombolan Pengacau Membakar Rumah Saya

  1. pribados waktos jaman gorombolan harita teu acan aya, mung kajadian sarupi kitu oge ka alaman ku pun bapa sareng pun biang..di Desa jati kacamatan batujajar kab.bandung barat. anu diduruk teh lain mung rorompok. tapi oge tangsi pulisi. Antukna kirang langkung saregu pulisi tutung / genghek diduruk ku gorombolan.. pribados ngiring prihatin ka sepuh sok sanaos eta kajadian tos Lawas…mugia ieu catetan tiasa janten pang beberah manah..salam ti simkuring..turunan korban gorombolan..cag.

  2. Hatur nuhun parantos rurumpaheun maos sakedik pangalaman pribados, teu aya sanes ieu pangalama teh tong kaalaman deui ku anak incu urang sadaya, margi pait peuheurna kahirupan jaman harita parantos karandapan ku sepuh urang sadaya. Ka sepuh urang sadaya upami tea mah parantos ngantunkeun pamugi Allahumaghfirlahum.
    Wassalam

  3. Umur saya sekarang 66 tahun lahir tahun 45. Jadi saya termasuk saksi hidup tahu betul bagaimana kejamnya si gorombolan DI/TII/NII. Saya tinggal di Ciamis ti tahun 1950 pindah dari kota kecil namanya Rancah. Sok aneh sekali kalau ada anak-anak muda make hayang asup NII sagala apalagi nganggap si Kartosuwiryo seorang mujahid. Kenapa saya mengatakan kejam. Karena kalau membunuh tidak sekedar jedor nembak tapi ada juga yang meuncit jiga meuncit hayam atau ngampak sirah tepi ka beulah. Eta si Dodo Mohamad Darda anak Kartosuwiryo terkenal di daerahku sbg si tukang peuncit. Gorombolan hirupna tina ngarampok malam hari seperti uang, mas, baju jeung sumbangan paksa ti donatur2 di kampung lamun teu mere bakal dijedor. Meureun eta anu disebut sekarang halal ngambil harta dari orang kapir teh.Sudah tidak aneh kalau malam hari ada suara tembakan tet tet tet eta pasti sora sten oge bren jeung granat. Pada suatu malam mungkin tahun 58 maaf tgl pastinya saya lupa ada serangan besar di Ciamis loba rumah dibakar termasuk kantor urusan Agama kabupaten dan Kecamatan keduanya ada di kiri kanan masjid Agung ludes. Ayah saya kebetulan jadi naib di KUA. Banyak orang mati di dekat rumah saya ada PM dikampak sirahna. Kedengaran gorombolan rebutan pestolna. Ieu bagian aing katanya. Sudah kebiasaan kalau ada suara tembakan kami biasa loncat ke dekat hawu menghindari tembakan nu pating sariet. Rumah kami adalah rumah panggung. Paginya masyarakat Ciamis pada keluar ingin tahu apa yang terjadi malam harinya. Ternyata gorombolan DI/TII masuk ke kota lewat sungai dekat kabupaten. Naik dari pinggir jembatan tapakna mani lidig.Banyak orang dibunuh dan rumah-rumah diduruk selain harta benda dirampok. Menyerahnya gorombolan dilakukan dengan cara pagar betis. Apa itu pagar betis? Pagar betis adalah ngepung gorombolan dengan cara menjaga menjaga jalan2 yang memungkinkan gorombolan belanja kebutuhan makanan sehari hari pada siang hari. Kurir gorombolan siang hari biasa balanja. Orang2 tidak tahu eta teh gorombolan. KTP belum ada waktu itu. Pada akhirnya gorombolan kalaparan karena tdk ada supply. Terpaksa akhirnya menyerah. Saya baru tahu rupa Kartosuwiryo tina koran PR. Aki aki buukna ngarerewig katanya di sakit ambeyen gering. Yang akhirnya divonis mati tetapi pengikutnya semua diampuni. Banyak pengikutnya jadi orang kaya karena dari hasil rampokannya. Banyak juga yg jadi pedagang besar.

  4. Terima kasih sudah menambahkan cerita atau lalakon hidup dari saksi sejarah yang masih jumeneng perkara kejahatan gorombolan DI/TII/NII. Jangan biarkan kejahatan yang bertentangan dengan tujuan Islam sendiri yang menjadi salam rahmat bagi seru sekalian alam. Semoga!

  5. Ki Eman bagus sekali tulisan ini karena aki boleh dikatakan sebagai sebagian dari “pelaku sejarah” dan saksi hidup dari peristiwa Gerombolan DI TII yang menakutkan saat itu persis seperti apa yg dialami oleh Kakek dan nenek saya serta anak2nya yaitu uwak, paman serta ayah saya alm ,ceritanya mirip demikian mungkin pola dan taktik Gerombolan DI TII saat itu ya …begitu itu ,kebetulan kakek saya alm bertempat tinggal di Desa Golat . Panumbangan mereka sering bercerita hal itu yang penuh derita ,serem,kadang kadang lucu nya juga ada……terus ki perbanyak tulisan nya dengan topik yang lain tentang kehidupan tempo dulu .’…
    bravo ..hidup Aki Eman Trims ……

  6. Juga terima kasih untuk Pak Suryadi asal Rancah Ciamis yang menambahkan cerita tentang Gorombolan DI TII yang membuat saya bertambah wawasan dengan cerita Pak Suryadi itu maklum pak saya berbeda generasi dengan bapak …..saya menjadi tahu bagaimana sepak terjang gorombolan DI TII saat itu dari nara sumber asli korban langsung kekejaman dari para tokoh DI /TII saat itu yang menebar teror demi nafsu angkara murka yang memaksakan kehendak demi golongan sendiri ..

  7. Lili Ahmad Gozali, terima kasih sudah membaca dan mengomentari tulisan Aki mengenai “Gerombolan Pengacau Membakar Rumah saya”, semoga jangan terulang lagi bagi anak cucu. Pahit peuheur kahirupan tos karandapan ku sepuh urang sadaya. Wassalam Aki

  8. anonymous, muhun sigana dipedar dina basa sunda langkung keuna kana mamaras, mugi bae kapayun pribados tiasa nulisna, ma’lum basa sunda teh ari dihaja-haja mah sok kalah teu kaur tret niat nulis teh. hatur nuhun tos komentar

  9. Muhun istilah gorombolan teh osok dicarioskeun ku pun biang , kumaha sih slaereesna kahirupan sosial urang sunda nuju waktos jaman gorombolan teh , hatur nuhun tos dibolekerkeun , jantena terang kinten kintena , mudah mudahan di papua oge ulah dugi ka kitu nya Amin

  10. Yunitan, cariosan tuang ibu leres pisan, wah da zaman harita mah kacida balangsakna, gorombolan teh da larbek asup ka kampung-kampung ngagunasika warga anu teu tuah teu dosa, nu watir mah si miskin beuki sangsara sabab nya imah diduruk, nya pakaya sesa seep diunjalan ka leuweung.
    kantenan atuh, di bumi urang ulah aya nu kararitu, telenges ka sasama manusa, keur perjuangan naon sih sabenerna. Duka nya! Wassalam

  11. Aki Eman, nepangkeun pribados ti Jogja, nanging turunan Ciamis asli. Upami ngadangu kecap gorombolan teh, sok ras weh ka almarhumah pun nini di Lumbung. Kumargi Lumbung aya di mumunggang Gunung Sawal, janten kantenan kagiliran dirurug goromobolan. Saur pun nini, upami aya gorowok di tungtung kampung, “KOMBET!!” (punten, mugi dilereskeun pami pribados lepat istilahna), eta hartosna aya gorombolan turun. Hatur nuhun seratanana, pribados insya Allah bade ngabagikeun deui, mugia janten kasaean, catetan sajarah ti Aki Eman, saksi hidup kajantenan tragedi kasebat.

  12. yoezka, wilujeng tepang sareng anu ngumbara di Jogya, leres pisan Lumbung oge kalebet anu sok diranjah ku DI, tiasa janten aya istilah “KOMBET” rupina tos aya kompromi kode kanggo kaayaan genting, di lembur Aki mah upami tos gawat kohkol bae dititirkeun. hatur nuhun. wassalam

  13. Betul Ki Katro, “Perjuangan” golongan telah menghalalkan segala cara termasuk membunuh

  14. sami pisan sareng nu d caritaken ku pun nini. d maleber ciamis g kitu kapungkur th . s gerombolan th d dieu g sok ngadurukan imh ngarampok sareng ngajarah minuman”arak” t warung nu sok jualan. pun aki ge sok d ungsiken ka kedungpanjang.

  15. Damang pak? Emh soak ngupingna emut ka alm Bapak abdi. Sami nasibna dulu rumahna sampai 2x dibakar ku gorombolan. Bapak abi lahir thn 53an. Berarti bpk abi saumuran sbrha nya da cnah bpak teh dibajuan awewe da meh teu dpencit

  16. Benar apa salah, sejarah dari kacamata saya, sebagai orang luar negri … Setelah Belanda diusirkan, banyak TNI Kalsel tida dapat apa-apa. Tida diganti rugi. Tida ada uang, tida ada kerja. Jadi perampok. Betul? Terus, ada juga yang bilang gerombolan itu memaksakan orang prebumi, termasuk orang Dayak, untuk masuk ke Islam. Dan kalau kita gak mau masuk ke Islam, kita bisa dibunuh. Betul? Makasih atas semua tulisan mu. Ini termasuk informasi langka Pak. Makanya saya tanya-tanya…Dan semoga Bapak bisa jawab. Sekian terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s