“Gusaran”, Pengganti Adat Khitan Untuk Perempuan?

Khitan untuk laki-laki atau anak laki-laki adalah biasa dilakukan dan itu tidak aneh bahkan merupakan kewajiban untuk sunat (wah rancu nih kewajiban tapi sunat).

Sekedar informasi saja tradisi khitan untuk anak perempuan yang disebut gusaran pada tahun 50-an di daerah Ciamis Jawa Barat masih sering dilakukan. Saat itu karena saya masih kecil tidak pernah tahu secara jelas bagaimana gusaran itu dilakukan. Tidak seperti khitan anak laki yang kadang diiringi tangisan yang dikhitan, anak perempuan yang gusaran cuma senyum-senyum saja. Gusaran tidak terbuka seperti sunatan anak laki, khitan anak perempuan disaksikan tertutup diantara perempuan saja.

Perkiraan saya bahwa khitan anak perempuan saat itu, tidak dilakukan apa-apa, maksudnya tidak ada bagian yang dilukai atau bagian yang dibuang sebagaimana khitan pada anak laki. Mungkin hanya sekedar ramai-ramai saja terhadap anak perempuan agar jangan iri terhadap anak laki yang jadi panganten sunat

Organisasi Internasional Himbau Penghentian Sunat pada Perempuan

Penyunatan dinilai tidak bermanfaat bagi kesehatan anak perempuan dan mengakibatkan berbagai komplikasi fisik dan psikologis.

Diperkirakan antara 100 sampai 140 juta anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia saat ini menghadapi akibat sampingan  penyunatan, di mana bagian luar organ kemaluan perempuan dipotong sebagian atau seluruhnya.

Penyunatan itu banyak dilakukan pada anak perempuan dari usia bayi sampai 15 tahun. Kelompok-kelompok advokasi setuju bahwa penyunatan tidak bermanfaat bagi kesehatan anak perempuan dan perempuan dan dapat mengakibatkan perdarahan hebat serta berbagai komplikasi fisik dan psikologis. Praktik sunat ini masih terus dilakukan hingga saat ini, terutama di 28 negara Afrika.

Direktur Komite Antar-Afrika mengenai Praktik-praktik Tradisional yang Berdampak pada Kesehatan Perempuan dan Anak-anak, Berhane-Ras-Work, menyebut penyunatan pada perempuan sebagai praktik penyiksaan. Ia mengatakan praktik itu terus dilakukan karena berakar dalam tradisi. Sistem patriakhal ini, ujarnya, dianut oleh masyarakat dan bahkan oleh kelompok perempuan, meskipun mereka harus merasakan sakit dan menderita.

Ras-Work mengatakan, “Sistem patriakhal itu menciptakan cara-cara  kekuasaan untuk membuat perempuan tunduk, untuk memanipulasi perempuan, dan membuat perempuan menjadi isteri yang tunduk pada suami. Perempuan bersedia untuk disunat agar dapat diperisteri, tetap perawan sebelum menikah, setia kepada suami, dan agar dapat diterima oleh masyarakat.”

Organisasi Internasional Urusan Migrasi mengatakan penyunatan pada perempuan merebak dengan adanya migrasi global. Organisasi itu melaporkan praktik itu sekarang dilakukan dalam banyak komunitas imigran di negara-negara Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Tetapi, upaya untuk menghilangkan praktik ini sedang giat dilakukan.

Dua puluh negara Afrika sekarang punya undang-undang yang menentang penyunatan pada perempuan. Data statistik menunjukkan penurunan lebih dari 50 persen praktik itu di delapan negara.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkampanye untuk menghentikan praktik penyunatan itu. Elise Johansen, dokter pada Bagian Penelitian Kesehatan Reproduksi WHO, mengatakan petugas-petugas kesehatan di banyak negara Afrika dan Barat melaksanakan prosedur ini.

Ia mengatakan, “Masalah ini lebih serius daripada yang kami perkirakan, karena tahun lalu Asosiasi Dokter Anak Amerika mengkampanyekan agar para petugas kesehatan menjangkau masyarakat dan menawarkan melakukan irisan kecil yang bersifat ritual sebagai pengganti praktik penyunatan. WHO dan badan-badan PBB lain serta organisasi-organisasi professional dan LSM menyerang anjuran itu dan asosiasi menarik dengan cepat usulan itu.”

Dokter Johansen mengatakan kadang-kadang, saran diberikan untuk memungkinkan beberapa jenis intervensi medis yang diyakini merupakan bentuk pengurangan rasa sakit yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan budaya.

Tetapi, ia mencatat hal ini belum terbukti berhasil. Sebaliknya, ia mengatakan WHO dan mitra-mitranya khawatir prosedur ini justru akan menggalakkan dan melanjutkan praktik penyunatan pada perempuan.

Sumber: http://www.voanews.com/indonesian/news/Organisasi-Internasional-Himbau-Penghentian-Sunat-pada-Perempuan-115437754.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s