Program Tahunan Seorang Pensiunan

Selagi masih bekerja aktif seolah-olah kebebasan sebagai individu tergadaikan kepada perusahaan tempat bekerja. Mempunyai atasan yang secara langsung yang “menentukan” nasib ini.  Akan tetapi dari tergadainya tersebut, saya mendapatkan kompensasi berupa gaji bulanan yang penuh, fasilitas, penghargaan karena prestasi, dan bahkan karir.

Semenjak pensiun bekerja dari sebuah BUMN pada usia 55 tahun, saya merasa seutuhnya memiliki kembali jiwa dan raga ini. Saya tidak punya atasan, artinya juga tidak punya tugas yang harus diselesaikan dengan segera misalnya, tidak punya target yang harus dicapai dengan pengawasan yang ketat, benar-benar bebas sebebas burung yang terbang melayang. Bebas dalam artian hampir segalanya ditentukan oleh sendiri.

Meski begitu, tentang kebebasan itu, ternyata saya pribadi di setiap tahun selalu memasang target yang merupakan harapan dan juga doa, target-target atau rencana program tertentu itu hanyalah seputar keluarga dan adanya kemauan dan kehendak pribadi yang sama sekali tidak ada yang mengawasi secara ketat, jadi rencana program dan target tersebut terkadang hanya berupa harapan, yang secara tanpa pasang target dan program pun sepertinya akan berjalan dengan baik sesuai dengan berjalannya waktu dan nasib.

Adapun contoh program tahunan itu misalnya saja pada tahun 2002 pekerjaan memperbaiki rumah sudah harus selesai. Tahun 2003 harus sudah mempunyai usaha budidaya jamur tiram, tahun 2004 anak kedua harus sudah menamatkan kuliahnya. Tahun 2005 harus sudah menikahkan anak pertama, dan seterusnya tahun-tahun berikutnya dengan berbagai program dan rencana. Program-program tersebut yang, alhamdililah, semuanya hampir berjalan sesuai dengan rencana. Bagaimana tidak akan begitu, karena kalau program tahun ini tidak terlaksana bisa dilanjutkan dengan tahun berikutnya.

Dipenghujung tahun 2010 saya sudah memasang program dan target bahwa di tahun 2011 semua anak dan mantu saya sudah harus memiliki pekerjaan tetap, sekaligus berpenghasilan tetap yang relatif mencukupi minimum untuk mereka dan keluarga sendiri. Saya juga memasang target bahwa segala bentuk subsidi dana dari orang tua untuk anak-anak harus sudah berakhir. Meskipun target itu tidak tertulis hanya ada di pikiran dan angan-angan tapi betul-betul dikatakan atau dipesankan kepada anak dan mantu saya itu.

Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa ternyata target yang dipasang pada tahun 2011  diawal tahun ini sudah mulai kelihatan “hasilnya”  yaitu terlaksana target program dan berjalan dengan baik, sepertinya sesuai dengan rencana. Sebagai catatan untuk mengapresiasi sendiri, saya dengan istri selalu “merayakan” setiap keberhasilan dengan bersyukur atau cuma membeli makanan kesukaan berdua misal membeli martabak telur, membuat pempek  Palembang, bahkan saya berpelukan dengan air mata kebahagiaan dengan anak saya yang berhasil memenuhi target tersebut.

Saya kadang tidak yakin apakah target atau program tahunan itu, yang sementara ini selalu “sukses”, memang benar-benar diperjuangkan atau target saya itu disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Misal sebagai contoh saya memasang target bahwa ditahun itu anak sulung saya harus menikah, apakah ini hasil perjuangan target harus menikahkan anak tersebut, atau memang kondisinya sudah begitu artinya anak laki sulung saya sudah mempunyai pekerjaan, terus sudah punya calon istri yang saya dan istri setujui.

Demikian cara saya pribadi memasang program tahunan yang alhamdulilah targetnya hampir selalu tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s