Soal Penyembelihan Hewan Qurban Itu

Sejak posting dengan judul “Penyembelihan Hewan Qurban”, saya merasa penasaran mengapa “orang luar” begitu menaruh perhatian kepada syariat Islam dalam hal penyembelihan hewan qurban. Padahal rasanya kurang bagaimana dilihat dari segi kepedulian sosialnya, dimana kaum dhuafa mendapat kesempatan memakan daging sekaligus memperbaiki gizi berupa protein yang sangat potensial bagi mereka kaum miskin.

Selanjutnya saya merasa agak plong ketika membaca tulisan di bawah ini yang saya copy paste dari: http://suprememastertv.com/ina/stop-animal-cruelty/?wr_id=46&url=link3_0&eps_no=&page=1#v. Ternyata komunitas vegetarian pun mempersoalkannya, tidak dari syariat Islamnya tapi dari segi “perikebinatangannya”.

Dipersilakan untuk membacanya, tapi panjang banget.

Menyumbangkan uang untuk amal dan membantu fakir miskin adalah cara yang jauh lebih baik daripada kurban.

Selamat berjumpa pada program Hentikan Kekejaman terhadap Satwa hari ini dimana kita akan memeriksa praktik yang mengerikan dari  mengekspor domba hidup dari Australia ke Timur Tengah untuk makanan dan digunakan dalam hewan kurban di akhir Haji atau ziarah ke Mekkah.

Domba adalah herbivora yang sosial, sangat cerdas, yang dapat hidup sampai 20 tahun dan menikmati makanan dari rumput dan tanaman lainnya. Hewan merumput ini mempunyai bibir atas yang terbelah, membuat mereka dapat memetik daun-daunan yang paling lezat dari tanaman.

Hubungan antara ibu dan anak domba amatlah dekat, penuh kasih sayang, dan kepedulian. Sebetulnya, anak domba dapat mengenali ibu mereka dari embekkannya.

Ada cerita terkenal dari China tentang anak domba yang menyentuh hati pemilik restoran. Setelah menyaksikan bayinya menangis dan menutupi pisau jagal yang digunakan untuk menyembelih ibunya dengan tubuhnya, pria tersebut kemudian beralih bisnis.

Setiap tahunnya jutaan makhluk yang lembut, tidak bersalah, dan sensitif ini menderita perpisahan yang menyakitkan dengan keluarga mereka. Pengirisan daging di daerah ekor mereka, penanganan yang kasar, luka dari pencukuran, dan yang terburuk dari semua, penyembelihan setelah dikirimkan ke luar negeri terus menimpa mereka.

Satu kejadian yang mendorong permintaan hewan sejenis ini adalah Idul Adha atau “Festival Pengorbanan,” suatu hari raya Muslim yang penting dimana domba disembelih tenggorokannya secara kejam dalam keadaan sadar sepenuhnya, lalu dengan kejam ditinggalkan berdarah sampai mati.

PEMBICARA: Imam tertinggi Arab Saudi, Sheikh Abdelaziz bin Abdullah al-Sheikh, berbicara tentang Idul Adha, “Pengurbanan seekor hewan bukanlah sebuah kewajiban untuk Muslim, tetapi itu adalah tradisi (sebuah Sunnah).”

Penghormatan kepada hewan di dalam kitab suci Muslim, Qur’an diungkapkan dalam banyak bagian termasuk yang berikut: “Tidak ada seekor hewan di Bumi, atau satu makhluk yang terbang dengan sayapnya, tetapi merupakan bagian komunitas seperti dirimu.” Qur’an 6:38

Dan Tuan Rafeeque Ahmed, pendiri Masyarakat Muslim Vegan/ Vegetarian di Inggris menyatakan: “Menurut Qur’an, ada sebuah ayat dalam Surat al-Anbiya nomor 107. “Tiada yang kami kirimkan kepada Anda selain belas kasihan untuk semua ciptaan.” Itu adalah mengenai Nabi Muhammad. Beliau mengirimkan belas kasih untuk semua ciptaan yang juga meliputi hewan. Dalam hal itu, Nabi Muhammad juga menghapuskan [makan daging] dengan pewahyuan bahwa daging mati adalah haram.

PEMBICARA: Domba yang dianggap tidak berguna lagi oleh peternak wool akan diekspor. Dari Australia saja, 6,5 juta hewan dikirim ke luar negeri setiap tahun, dan permulaan perjalanan kematian mereka sering dimulai dengan pengurungan dalam kandang untuk menggemukkan mereka dan membuat mereka terbiasa dengan makanan kering, bentuk butir yang diberikan di kapal pengangkutan mereka.

Setelah lima hari atau lebih mereka akan dibawa ke sebuah dermaga untuk dimuat ke dalam kapal pengangkut ternak yang bertingkat-tingkat, beberapa kapal ini ada yang mampu membawa sebanyak 100.000 hewan.

Memasukkan semua domba pada satu pengiriman dapat memakan waktu lima hari, sebuah proses yang sangat menekan mental dan membingungkan bagi makhluk yang sensitif dan jinak ini.

Setelah didesakkan ke atas “kapal kematian” ini, mereka bepergian selama kira-kira sebulan sampai tujuannya dicapai. Ketika di atas kapal, domba yang tak berdaya berada di bawah kondisi cuaca yang luar biasa stres, kekurangan nafas, tercekik, luka-luka, penyakit, dan infeksi. Singkatnya, mereka menahan trauma fisik dan mental yang tanpa henti dengan puncaknya kematian akibat kekerasan.

Untungnya, di Selandia Baru, larangan tentang ekspor domba hidup telah dihentikan sejak tahun 2003. Bagaimanapun juga akhir-akhir ini telah ada ketakutan bahwa larangan ini mungkin dicabut. Hans Kriek, direktur kampanye untuk grup nirlaba pembela hewan Selandia Baru Save Animals From Exploitation berkomentar:

Hans Kriek, Vegan, Direktur Kampanye Save Animals From Exploitation (SAFE), Selandia Baru: Kondisi domba di atas perahu sangat menderita. Anda dapat melihat antara 30.000 hingga 100.000 hewan berdesakkan di atas perahu. Nah jangan lupa domba di Selandia Baru hidup dari makan rumput, itulah apa yang mereka makan. Tapi di atas perahu mereka tidak dapat makan rumput, sehingga mereka mendapat makanan butiran, hanya sedikit, butir pil kering. Banyak dari domba tersebut yang tidak memakan itu. Dan sebenarnya itulah yang menjadi penyebab utama kematian saat pengapalan, yaitu kelaparan. Sekitar separuh dari hewan yang mati disebabkan oleh kelaparan.

PEMBICARA: Kapal untuk domba tersebut dikemas tiga ekor setiap meter persegi dalam kandang besi yang ditumpuk satu di atas yang lainnya, kadang disusun hingga 11 tingkat atau lebih. Domba yang ditempatkan di bagian luar dan lapisan teratas terkena hujan, angin dingin dan ombak, dan mereka yang di tengah dan bawah lapisan tersebut terus menderita panas ekstrem dan kekurangan ventilasi.

Hans Kriek (L): Mereka dapat terkena ombak besar. Mereka juga dapat terkena cuaca lembab, cuaca panas, tak diragukan lagi, di Timur Tengah ada banyak hewan yang mati karena radang paru-paru, (atau) salmonellosis. Itu benar-benar buruk.

Banyak debu di udara dari makanan kering, butiran itu dapat masuk ke dalam mata hewan dan hewan itu dapat menjadi buta. Mereka juga berdiri di atas kotoran mereka sendiri selama seluruh perjalanan. Itu adalah perjalanan ke neraka. Itu mengerikan.

PEMBICARA: Festival Muslim Idul Adha atau Festival Pengorbanan adalah salah satu hari raya paling penting bagi umat Islam. Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, tenggorokan para hewan digorok secara kejam saat mereka sepenuhnya sadar lalu mereka dibiarkan berdarah sampai perlahan-lahan mati.

Ritual ini tidak diwajibkan tetapi hanya sebuah adat. Kenyataannya, Imam dan sarjana Muslim berkata bahwa tidak ada ayat yang memerintahkan pengurbanan.

Menyumbangkan uang untuk amal dan membantu fakir miskin adalah cara yang jauh lebih baik daripada kurban.

Dr. Huseyin Hatemi seorang profesor hukum Universitas Istanbul di Turki menyampaikan bahwa bahkan menggunakan kail sewaktu memancing tidak dapat diterima oleh Muslim, karena itu menyebabkan terlalu banyak kesakitan bagi hewan.

Sebenarnya Islam adalah agama cinta kasih, seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad, Semoga Damai Beserta-Nya, ”Semua makhluk adalah seperti keluarga (Ayal) Tuhan: Dan Ia paling mencintai mereka yang paling dermawan kepada keluarga-Nya.”

Dia juga berkata, “Siapapun yang berbaik hati kepada makhluk Tuhan adalah berbaik hati terhadap dirinya sendiri.” Perjalanan domba itu ke Timur Tengah sungguh perjalanan kematian. Sebagai contoh, para peneliti menemukan bahwa dalam satu kapal 31% domba mati dalam perjalanan karena kehabisan nafas atau tercekik.

Peter Sumner: Mereka berdesak-desakan dalam kandang ini dan dipaksa untuk berdiri dan berbaring dalam kotoran mereka sendiri, kadang selama berminggu-minggu.

PEMBICARA: Tergantung pada rute dan tujuan, perjalanan di laut dapat memakan waktu empat minggu atau lebih lama. Domba dijejal dengan sangat ketat sehingga mereka hanya punya 15 centimeter ruang untuk kepala. Selain itu, kapal tersebut seringkali bergoyang yang sangat tidak nyaman dan menekan mental para hewan.

Selama berpergian berhari-hari hingga akhir, domba tersebut mengeluarkan kotoran dan air seni di tempat mereka berdiri, membentuk adukan yang jatuh ke tingkat yang lebih rendah dan mengotori tempat makanan. Kotoran tersebut menumpuk ke atas sampai titik tertentu dimana beberapa hewan terjebak dalam kotoran mereka sendiri dan akhirnya mati karena tidak dapat meraih makanan mereka.

Di beberapa tempat, kotoran tersebut tertimbun setinggi 30 centimeter, menyebabkan sekumpulan besar penyakit dan masalah termasuk radang paru-paru, penyakit mulut kudis, lupinosis, bisul kaki, dan salmonellosis. Telah dihitung bahwa 27% dari semua domba yang mati selama pengiriman disebabkan oleh salmonellosis. Yang lainnya mungkin mati karena kelelahan, tertekan, dehidrasi, dan kelaparan.

Selama kapal-kapal tersebut berlayar ke tujuannya, suhu dapat berubah-ubah dari membeku sampai panas sekali dengan suhu 40 derajat Celcius serta kelembapan 90%. Telah diperkirakan bahwa hanya dengan kenaikan suhu empat derajat akan membuat tingkat kematian hewan ini naik tiga kali lipat, banyak dari mereka terluka karena lantai yang licin atau terhimpit sampai mati karena berebutan persediaan makanan yang terbatas.

Hewan yang sakit dan terluka dibuang oleh para pekerja yang melempar mereka ke dalam luncuran yang menuju satu mesin yang menggiling domba itu hidup-hidup dan membuang sisa mereka ke dalam laut. Di manapun, mulai dari 4,4 sampai 10% domba akan mati selama pengangkutan hidup-hidup, dengan 70% sekarat selama pelayaran di kapal dan 20% ketika dikeluarkan dari kapal.

Untuk mengeluarkan hewan tersebut dari kapal, para pekerja memukul hewan tersebut dengan tiang baja berkarat, palu, dan peralatan berat apapun. Beberapa domba dibuang dari kapal. Bulu atau telinga atau kaki mereka ditarik di sepanjang tanah dan dibuang ke belakang truk untuk diikat untuk dipasarkan. Beberapa hewan tercekik ketika mereka saling menimpa di atas satu sama lainnya, sementara lainnya menderita luka-luka yang hebat.

Pencerita lainnya (L): Saat kedatangan di Timur Tengah, hewan dipindahkan dari truk ke truk lainnya katika mereka melalui perbatasan.

Yossi Wolfson (L): Di setiap titik pemeriksaan mereka diturunkan dari truk dan dinaikkan kembali ke truk-truk baru, dari truk-truk Yordania ke truk-truk Israel, dari truk Israel ke truk Palestina. Dan kendaraan tersebut bukanlah kendaraan yang diperuntukkan membawa para hewan. Mereka hanya dipakai sementara untuk mengangkut mereka.

PEMBICARA: Sehari sebelum Idul Adha dimulai, orang-orang pergi ke pasar dan membeli hewan-hewan. Dengan ikatan di kaki, hewan tersebut dibawa dan ditarik dan dibuang ke dalam sebuah bagasi mobil, dengan beberapa saling menimpa dan gerakannya dibatasi atap bagasi mobil. Memukul atau menendang hewan untuk membuat mereka menurut adalah hal yang biasa.

Saat penyembelihan dimulai, hewan tersebut digorok lehernya dalam keadaan sadar dan tanpa pemberitahuan atau persiapan apapun. Domba itu menderita sekali selama 40 detik dan mati karena pendarahan. Mereka juga ditendang dan berteriak dalam derita.

Pencerita (L): Seperti Anda lihat, itu begitu brutal, tidak diperlukan, dan tidak berperasaan, membuat hewan tak berdosa ini mati berdarah secara perlahan-lahan.

PEMBICARA: Sebagai usaha agar pemerintah Selandia Baru terus melarang perdagangan domba hidup yang mengerikan, Save Animals from Exploitation bekerja sama dengan koalisi grup pembela satwa lainnya.

Hans Kriek (L): Kami akan berada di garis depan untuk berkampanye melawan itu. Penderitaan itu begitu luar biasa dan itu tidak perlu terjadi. Itu dapat dihentikan dan kami pasti tidak akan membiarkan itu berlanjut di Selandia Baru.

PEMBICARA: Kami berterima kasih kepada organisasi seperti Save Animals from Exploitaion, Lembaga Vegan/Vegetarian Muslim, dan semuanya yang berkarya untuk melindungi domba yang tak berdosa ini dari perlakuan kejam dan pembunuhan.

Semoga ekspor kejam dan tak beralasan ini segera berhenti sehingga kehidupan dari makhluk yang indah ini dapat dilestarikan. Mari kita semua memperlihatkan sikap kasih dan persaudaraan terhadap sesama makhluk.

Untuk lebih banyak informasi tentang kekejaman ekspor domba hidup, silakan kunjungi Save Animals from Exploitation www.Safe.org.nz
People for the Ethical Treatment of Animals www.SavetheSheep.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s