Tukang Becak

KH Abdurrahman Wahid sangat-sangat tidak setuju dengan adanya tukang becak. Kalau Gus Dur minta dukungan dalam hal ini, saya termasuk yang juga ikut angkat tangan, setuju banget Gus! Tapi Gus satu ini sudah tiada, tidak ada lagi yang membela kaum lemah dan terpinggirkan seperti tukang becak. Dimata saya paling menghinakan nilai kemanusiaan adalah menjadi tukang becak, bayangkan demi sesuap nasi harus menggenjot pedal untuk mengantarkan pelanggan, dengan tenaga manusianya. Bukankah ini pembinatangan manusia! (Istri saya kalau mendengar saya ngomong begini yang sedikit meledak-ledak akan berkomentar: “Sabar Pak, sabar!”). Iya dong, kalau saja mereka punya kesempatan lain yang lebih manusiawi pasti amit-amit jadi tukang beca.

Saya berangkat merantau ke seberang pulau Jawa tahun 1977, di daerah Cicadas Bandung banyak kaum lemah tukang becak ini dengan kondisi yang menyedihkan. Dan 24 tahun kemudian tahun 2001 saya sudah menjadi “laskar tak berguna” kembali ke kota Bandung, berubahkah tukang becak? Tidaaaak, sekali lagi tidaaak!!! Tetap sengsaranya tetap tukan becaknya, tetap menyedihkannya. Saya dengan kedunguan yang sama dengan…….., tidak bisa berbuat apa-apa, cuma mengelus dada!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s