Terlampau PD

Umur saya dengan dia jauh, kemungkinan beda 20 tahun, jadi dia baru sekitar usia 40-an. Dia merencanakan menikahkan putrinya, seperti sudah lajimnya pada setiap acara pernikahan, para ex pegawai PTB termasuk pensiunannya yang berada di Bandung selalu diundang. Semakin dekat ke hari pernikahan saya merasa heran mengapa saya belum juga dikirim undangan, padahal saya cukup “dekat” dengannya.

Dengan gaya saya yang agak “kurang ajar” disaat kesempatan bertemu dengannya bertanya atau menyatakan bahwa saya belum menerima undangan. “Belum, nanti diantar” katanya. Betul, 3 hari menjelang acara pernikahan saya menerima undangan. Saya merasa biasa saja karena undangan begitu sudah sering kali, jadi saya dan istri merencanakan untuk hadir karena saya merasa PD bahwa saya “dekat” dengannya.

Pada saatnya hadir di resepsi pernikahan tersebut saya cukup terheran-heran, pertama tempat penyelenggaraannya relatif “sederhana”, kedua undangan yang hadir jumlahnya tidak terlalu banyak, dan ini yang penting, para pensiunan yang biasanya banyak datang, bahkan suka dijadikan ajang reuni, kali ini hanya kelihatan satu orang.

Saya baru sadar bahwa saya telah over estimate, keduanya saya terlampau PD atas undangan seseorang. Barangkali saja sebetulnya dia tidak berniat untuk mengundang orang terlalu banyak, barangkali juga dia ingin resepsi tersebut, dengan berbagai alasan, dilaksanakan secara sederhana saja. Dan itu haknya dan sangat manusiawi yang patut dan seharusnya  saya hormati. Saya yang sudah tua bangka merasa mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s