Kepongahan

Rumah saya sekarang ditempeli nomor rumah lengkap dengan RT dan RW-nya, sampai disitu saya tidak masalah oke-oke saja. Akan tetapi ada yang mengganggu dari tempelan nomor tersebut adalah kata-kata yang tidak manusiawi yaitu: TIDAK MELAYANI SUMBANGAN APAPUN TANPA SEIJIN RT/RW SETEMPAT. jadi mereka yang memerlukan pertolongan telah terusir dengan sendirinya.

Kehidupan semakin jauh dengan ajaran moral juga ajaran agama yang baik. Perintah untuk menghormati tamu, dan menolong mereka yang kekurangan telah hilang dengan pernyataan tersebut. Merasa kurang tegas simak kata-kata berikutnya: 1 X 24 JAM TAMU WAJIB LAPOR, Musafir yang tersesat dan kekurangan biaya untuk ikut menginap – barangkali pelaksanaannya hanya ada tertulis di hadist – sudah lebih sengsara lagi  dan terlunta-lunta tidur di pinggir jalan.

Kalau ingin menyimak coba lihat di masjid-masjid yang menjauh dari umat yang miskin: Dilarang tiduran di dalam masjid – meski maksudnya hanya untuk sholat dan zikir – mereka yang ingin istirahat sekali lagi terusir. Sudah cukup? belum, sebab ada tradisi baru masjidnya selain untuk sholat selebihnya dikunci, dipagar besi dan digembok. Rumah Tuhan juga sudah menjadi angker, Pemiliknya Allah SWT mengizinkan,  tapi penjaganya demikian menyeramkan dan pongah.

Individualisasi (?) telah demikian banyak merasuk kedalam rumah manusia dan rumah Tuhan. Kita tengah berlomba-lomba mengusir kaum papa yang seyogianya dibela dan disantuni, padahal pemerintah tidak mampu mengatasi kesejahteraan warganya. Sudah semikian jauhnya kita berjalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s