Ikan Bakar.. atau Bakar Ikan?

Saya sudah lama tidak makan ikan bakar, itulah sebabnya saya selalu mengajak istri saya kapan-kapan mencari ikan bakar. Akan tetapi kesempatannya tidak selalu ada, disamping itu memang di Bandung termasuk jarang yang jualan ikan bakar. Beda dengan di Balikpapan atau di Bontang, apalagi di Makasar menurut cerita orang. Yang saya tahu persis di Bontang disamping banyak yang jualan ikan bakar juga memang banyak ikan laut dijual, maklum daerah pantai.

Di Bontang itu kalau hari Sabtu saya dan istri belanja ikan ke kampung yang lokasinya dekat pantai dimana banyak nelayan menjual ikan hasil tangkapannya. Berjenis-jenis ikan seperti kakap merah, kakap putih, tenggiri, kembung, cumi-cumi, belanak, pari, baronang, dan masih banyak lagi sampai tidak hapal lagi.  Karena ikan di pasar selalu banyak,  jadi harganya relatif murah. Selain itu karena saya masih bekerja, siapa yang akan memperhitungkan hanya “sekedar” harga ikan laut. Setelah sampai di rumah tugas saya untuk membersihkannya, tidak jadi masalah karena selagi di lembur sewaktu masih usia SD dan SMP sudah biasa membersihkan ikan dalam jumlah banyak. Nah di Bontang pun saya membersihkan ikan dalam jumlah yang lumayan, dan kalau saya mau ikan bakar dengan mudah segera saja saya membakarnya. Bumbunya biasanya dibuatkan istri saya yang sudah lihai, meski bisa membuat bumbu ikan bakar akan tetapi istri saya nehi memakannya.Hari ini secara sengaja istri – untuk menyenangkan suami – mengajak saya untuk mencari ikan bakar di MTC jadi dekat saja dengan rumah, kebetulan di tempat makan lantai atas ada lokasi tempat makan dengan nama “Kampung Pasundan”. Di tempat itu berderet outlet atau gerai, atau stand makanan, saya menemukan ikan bakar di stand makanan Sunda. Kemudian memesan satu porsi ikan bakar lengkap dengan nasinya. Harganya Rp 17.500 per porsi.

Setelah pesanan dihidangkan saya langsung mencoba ikan bakar, ikan bawal bakar ternyata enak dan pas dengan selera yang dikehendaki. akan tetapi saya mengoreksi sambal, goreng tahu, goreng tempe, dan sayur asamnya perlu sentuhan rasa lagi, jadi yang oke hanya ikan bakar dan sambal kecapnya saja.

Istri saya sebagaimana telah saya sebutkan bahwa tidak begitu menyukai ikan, baik ikan tawar maupun ikan laut, mungkin karena Bandung jauh ke laut dan tidak terlalu banyak kolam seperti di daerah asal saya di Ciamis. Jadi istri hanya memilih bakso kuah dan seporsi otak-otak.

Itulah sekelumit cerita tentang makan ikan bakar (mestinya bakar ikan bukan?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s