Romantika Hidup Bertetangga

Pak E. adalah tetangga yang pada batas-batas tertentu sudah akrab dengan saya sejak tahun 2001. Sebetulnya kalau sekedar kenal sudah lama, kalau tidak salah, sejak 1990 saat saya membeli rumah di kompleks ini. Yang paling ingat tentunya ketika saya masih dinas di kota B dan istri beliau meninggal, itu dilaporkan oleh anak-anak saya. Dan kemudian beliau menikah kembali.

Jadi kalau saja saya urut periode kenal saja dengan beliau yaitu dari tahun 1990 s/d 2001, dan periode akrab tahun 2001 sampai sekarang ini tahun 2010. Pada periode kenal saya tidak bisa  bercerita banyak mengenai beliau, karena saya berada di perantauan yaitu di kota B. Banyak cerita adalah pada periode akrab yaitu sudah saya ceritakan sejak 9 tahun yang lalu.Beliau, iya Pak E. itu, sering ngobrol dengan saya biasanya pagi hari sekali saat beliau sedang menyapu halaman. Kemudian biasanya saya lewat untuk berolah raga dengan naik sepeda atau berjalan kaki. Biasanya saya selalu mampir, ya begitu saja ngobrol di pinggir jalan., saling menyapa, saling menanyakan kesehatan masing-masing. Beliau kebetulan orangnya ramah dengan siapa saja kenal, dengan siapa saja enak mengajak dan diajak ngobrol. Sekali lagi ini penilaian pribadi yang tentu saja akan berbeda dengan penilaian orang lain.

Dua kejadian atau peristiwa yang sangat berkesan di dalam hati saya adalah kejadian menguruskan tetangga yang meninggal dunia. Pertama adalah saat tetangga Pak E., dari rumah saya relatif agak jauh, yakni Pak D. meninggal dunia kami bersama menguruskan pemakaman almarhum, saya berdua duluan berangkat ke pemakaman, untuk berurusan dengan kantor pemakaman.

Peristiwa kedua juga adalah sama saat kematian salah seorang tetangga terdekat rumah saya bahkan didepan rumah saya persis. Sekali ini bersama Pak E.menguruskan, membawa ke Rumah Sakit, karena memang saya sudah tahu bahwa almarhum adalah sakit gagal ginjal. Tuhan menghendaki lain alamarhum meninggal di rumah sakit Al Islam, beberapa saat yaitu sorenya almarhum menghembuskan napas terakhirnya.

Peristiwa itulah yang menyebabkan saya semakin akrab dengan beliau. Sebetulnya ada yang lebih akrab yaitu ketika beliau terasa sakit jantung, yang sama dengan yang saya derita, jadi bias sama-sama mencritakan pengalaman, satu penderitaan, sama-sama sakit jantung koroner. Mungkin istri saya cerita tentang diri saya yang habis dikateterisasi, karena beliau bertanya kepada saya. Pada saat beliau sakit, beliau tetirah di rumah anaknya di Jakarta, ini anak tirinya, yang tidak beliau beda-bedakan.

Selanjutnya saya dengan beliau terus bersahabat, sampai-sampai beliau mempercayakan kepada saya untuk menjadi ketua saat acara pernikahkan putrinya. Demikian cerita singkat hidup bertetangga. (Ceritanya lurus banget ya!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s