Ibadah Seseorang

Ibadah dimaksud adalah ibadah kepada Tuhan dalam pandangan agama Islam, terus juga dimaksud adalah hubungan ibadahnya hanya kepada Allah SWT jadi artinya hubungan habluminallah. Sebab ada yang lain yaitu hablumminannas, hubungan sosial sesama manusia. Dan yang akan saya bicarakan adalah perhatian seseorang kepada orang lain atas apa yang dilakukan orang lain tersebut dalam hal ibadah kepada Allah SWT dalam arti ibadah, sekali lagi, habluminallah.Saya ingin menceritakan seseorang yang terus-terusan memantau ibadah orang lain dalam hal ini adalah saudaranya. Misalnya sangat menghawatirkan kalau seseorang, sekali lagi saudaranya, kalau tidak sholat. Bukan hanya itu bahkan menghawatirkannya mengapa tidak belajar membaca Al Quran. Ketika saya perhatikan kaum Ibu sangat perhatian ekstra kepada ibadah ini, apakah karena menempel instink untuk mendidik atau mengajarkan kebaikkan.

Kalau dalam hal ini ditanyakan kepada saya, jelas tidak begitu. Pertama karena manusia itu berbeda-beda, tentunya cara memandang ibadah juga berlainan, haruskah kita seragamkan seperti apa yang kita pikirkan atau seperti pendapat kita sendiri? Menurut saya tidak. Biarkan saja karena ibadah kepada Allah SWT bersipat sangat pribadi, tak perlu ada pemaksaan apalagi keseragaman. Tentu ini akan mendapatkan tantangan yang keras dan berbeda.

Saya ingin mengatakan apabila seseorang sedang menilai orang lain dalam melakukan ibadah agama, harus juga menilai diri sendiri. Begini misalnya, agama ini kan terus-terusan dipelajari, seperti mata pelajaran atau mata kuliah di sekolah. Sederetan pelajaran agama yang harus dilakukan atau dipelajari adalah banyak. Misal deretan pelajaran agama itu adalah mengenai: akidah, ahlak, bahasa Arab, seni baca al Quran, tajwij, berceramah, bera’wah, memimpin umat, dan lain-lain. Nah dari semua mata pelajaran itu tentu saja tidak semuanya dikuasai dengan sempurna, mungkin saja sebagian bernilai A tapi beberapa bahkan D, dan ada yang belum lulus dan bernilai E.

Begitulah cara saya berpikir, atau cara saya memandang orang lain dalam hal keagamaan. Bisa berbeda, ini saya ingatkan yang dibicarakan adalah untuk orang dewasa, bukan pada anak-anak yang masih memerlukan bimbingan.

Sekedar seperti apa yang ada dalam pikiran saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s