Kerukunan Rumah Tangga Dihari Tua

Usia saya dan istri semakin lanjut, saya 63 sedang istri saya baru saja berulang tahun ke 57 tahun. Saya berupaya untuk mencegah terjadinya perselisihan, pertengkaran, perbedaan pendapat yang diakibatkan oleh hal-hal yang sepele. Salah satu upaya saya yaitu, pertama harus tahu rencana yang akan dilakukan pada hari itu baik saya mau pun istri saya. Keduanya bagaimana sikap berdua terhadap sesuatu masalah atau hal, nanti akan saya beri contoh.

Cara untuk mengetahui rencana masing-masing adalah dengan cara membicarakannya atau bertanya, umumnya saya yang bertanya, apa rencana hari ini. Tidak usah setiap hari, terutam yang sudah rutin dan masing-masing merasa nyaman sudah tidak usah dibicarakan lagi. Yang ditanyakan atau dibicarakan adalah yang insidentil saja. Semisal yang paling sederhana saja yaitu disetiap hari Minggu ada digelar pasar dadakan. nah istri saya hampir selalu setiap Minggu membeli berbagai keperluan. Saya selalu bertanya apa rencananya dan bagaimana saya membantunya. Misal saya nanti ditelepun istri saya dari pasar dadakan untuk mengambil barang. Maka akan saya lakukan itu.

Selanjutnya ketika tugas saya membantunya selesai, tinggal acara dan kemauan saya sendiri, istri saya pun tidak menuntut apa-apa lagi. Biasanya saya olah raga jalan kaki dan menjelajahi dunia maya internet, rasanya karena saya sudah tahu sebelumnya apa yang hendak istri saya lakukan atau saya lakukan jadi rukun-rukun saja. Jelasnya tidak ada kesalah pahaman lagi, sekali lagi karena sudah saling mengerti.

Berikut adalah memahami sikap masing-masing terhadap hal-hal atau persoalan yang dihadapi. Misalkan sikap terhadap anak yang sedang menghadapi permasalahan, atau yang paling sederhana apakah perlu hadir di suatu undangan arisan pensiunan atau tidak. Ini contohnya, ada undangan rutin silaturahmi pensiunan rutin diselenggarakan setiap 3 bulan dua kali. Yang menjadi persoalan adalah jika pergi memerlukan biaya membeli bahan bakar mobil. Maka saya membicarakan dengannya apakah akan pergi atau tidak. Dan begitu saja diputuskan untuk tidak datang.

Ada yang penting diperhatikan yaitu selagi membicarakan sesuatu harus saling terbuka, jangan cepat tersinggung, dan jelasnya harus sabar. Obatnya begini, jangan merasa kalah kalau usulan atau pendapat kita tidak diterima oleh pasangan kita. Demikian juga kalau menerima pendapat atau usulannya harus dengan ikhlas menerimanya. Satu lagi yang perlu menjadi pegangan kalau sudah tua begini harus merasa rugi sekali lagi merasa  rugi bahkan menyiksa diri kalau selalu dipakai bertengkar.

Saya masih ragu apakah cara ini juga bisa diterapkan kepada pasangan masing-masing, barangkali memang harus kondisinya seperti kondisi saya dan istri saya. Denga kesabaran saya yakin bisa.

(Ditulis tanggal 6 Desember 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s