Hubungan Kakek dan Cucu

Selesai membesarkan anak, menyekolahkan, bahkan menikahkannya telah saya lakukan. Memang iya anak saya satu lagi belum menikah tapi sudah selesai dan tamat di sekolahkan selesai S1. Menunjukkan kewajiban mengurus anak sudah selesai, selanjutnya masing-masing anak mengurus sendiri-sendiri akan kehidupannya, termasuk biaya hidupnya ditanggung masing-masing.

Kemudian lahir cucu satu demi satu yang sampai saat ini saya sudah mempunyai 4 cucu yang sehat-sehat, pintar-pintar, dan lucu-lucu. Rasa sayang saya sebagai seorang kakek terhadap para cucu tak terhingga. Mungkin sebagai gantinya dulu sayang anak sekarang menyayangi para cucu. Beberapa kakek sepakat bahwa kehadiran cucu sangat membahagiakan dan menambah semangat hidup. Bahkan beberapa kawan sesama kakek menyebutkan bahwa melebihi sayang terhadap anak sendiri dahulu. Saya memang sayang terhadap cucu tapi apakah memang lebih sayang terhadap cucu, entahlah, sepertinya sama saja ke semuanya juga sayang.

Selama ini saya merasakan dekat dengan para cucu, sayang dengan mereka, tapi saya merasa bahwa saya tidak merasa ada kewajiban untuk mendidik. Kalau iya ada kewajiban paling-paling kewajiban untuk menyayangi. Kewajiban mendidik adalah melekat pada kewajiban orang tuanya. Disamping itu juga cara mendidik anak sekarang mungkin akan berbeda dengan zaman dahulu ketika saya mendidik dan membesarkan anak-anak saya.

Meskipun saya sayang kepada cucu saya tapi apakah cucu akan ingat dengan kakeknya? Tapi juga saya tidak begitu jelas apakah kasih sayang kakek terhadap cucunya harus dibalas? Dibalasnya bagaimana? Karena menurut perhitungan saya sebelum mereka menginjak usia jauhnya 25 tahun saya kemungkinan sudah tiada.

Saya memang rada bingung sekali lagi apakah kasih sayang seorang kakek berdampak bagaiman kepada cucunya. Terus juga karena seorang kakek menyayangi cucunya apakah Si Cucu harus membalasnya, lalu kalau membalas dalam bentuk apa? Sementara saya berpendapat bahwa para cucu tidak ada kewajiban untuk membalas kasih sayang kakeknya, lagian bentuk sayangnya juga tidak terlalu bagaimana begitu, umpama, sampai berdarah-darah. Kasih sayang kakek terhadap cucunya hususnya saya hanya naluriah saja dan rasa-rasanya tak memerlukan balasan. Jika mereka sehat, tumbuh pintar dan cerdas, lucu-lucu sudah cukup menjadi kebanggaan.

Saya tidak pernah merasakan kasih sayang kakek dan nenek, karena saat itu saya masih kecil sekali, kemungkinan usia saya dibawah 5 tahun, karena saya masih ingat pada usia TK dan tidak mengenal kakek. Mungkin cerita ini akan diperdalam atau ditulis dalam judul lain akan tetapi masih tetap satu tema yakni hubungan kekerabatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s