Foto Peninggalan Orang Tua

Saya ingin mencoba menulis apa yang berada di benak saya, dimana rasanya sulit untuk diucapkan sekali pun. Mencoba diceritakan ke istri saya juga nampaknya saya tidak mampu mencurahkan apa yang ada dalam pikiran saya. Akibatnya mungkin istri saya tidak menangkap esensinya, kemudian tidak ditanggapi dengan mencukupi. Begitulah cara saya berpikir sesuatu, terlalu detil dan tidak penting, terlalu dicari-cari. Mungkin orang lain akan berpendapat, “yang begitu saja dipikirkan”.

Apa sebetulnya yang menjadi persoalan atau pemikiran yang sampai saya mendapatkan kesulitan mengatakannya apalagi menulisnya? Saya hanya akan membicarakan masalah barang-barang peninggalan orang tua yang tidak berharga secara materi akan tetapi sangat berharga secara psikologik (apa betul ya istilahnya begitu), sebab barang-barang tersebut berharga hanya bagi pemiliknya saja, dalam hal ini untuk membatasi cakupannya saya akan membicarakan mengenai foto saja.

Saya dan istri, atau hanya saya saja ya? Ini ditandaskan karena kenangan terhadap suatu foto dari individu ke individu akan berbeda, saya dan istri senang mengumpulkan foto-foto. Malahan sebagian dibuat ukuran besar, dan seperti sebuah galeri atau pameran, ditempel dipajang di sepanjang tangga ke lantai dua rumah. Tentu setiap orang akan berkomentar akan pajangan ini, terserah saja. Sekali lagi akan saya sebutkan bahwa karena saya dan istri, dan dibantu oleh anak saya, yang menempelkan foto-foto tersebut, tentu saja kenangan terhadap foto tersebut sangat individualis (walah apa betul ya?). Belum jelas ya? Bahwa orang lain tidak akan sama dengan saya kenangannya terhadap foto tersebut. Karena buat apa orang lain menempel sebuah foto kalau tidak punya alasan untuk menempelnya? Jelas bukan.

Nah, jika begitu kalau saya dan istri sudah tidak ada, jelas bukan maksudnya, sudah meninggal, akan bagaimana nasib foto-foto tersebut? Karena orang lain, meski anak saya sekalipun tidak akan “menghargai” foto tersebut, seperti saya dan istri menghargainya. Barangkali foto-foto tersebut akan diturunkan dan dibuang bersamaan dengan menghilangnya saya dari ‘mereka”.

Lalu mengapa saya sampai menarik kesimpulan seperti itu, karena saya melihat kenyataan foto-foto orang tua saya pun hilang entah ke mana, untuk menempelkan di dinding pun saya tidak punya hasrat. Karena kemudian saya pun punya kenangan sendiri tidak sama dengan kenangan orang tua saya. Saya telah mempunyai sejarah hidup sendiri apalagi keluarga baru yang melibatkan orang lain yang tidak “sepaham” dengan saya dan secara sedikit demi sedikit akan lengser dari hati dan pikiran saya.

Wah dengan berat telah selesai ditulis dalam satu halaman quarto, mengenai hal yang sangat sulit untuk saya nyatakan. Selesai dan selanjutnya tidak akan saya upayakan lagi untuk menulisnya secara husus.

One thought on “Foto Peninggalan Orang Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s