Menulis Dari Lubuk Hati Terdalam

Menulis dimaksud adalah menyatakan sesuatu dalam bentuk utuk diketahui orang lain. Pendapat tentang sesuatu tidak akan diketahui orang lain andaikata tidak dilahirkan dalam bentuk tulisan. Memang iya bias diketahui orang lain andaikata juga kita ceritakan, tapi cerita tidak abadi, dan mudah dilupakan orang. Tidak sebagaimana tulisan yang bias panjang usianya. Saya terpaksa memakai istilah panjang usianya karena di dunia ini tidak ada yang abadi.

Sedangkan pengertian lubuk hati terdalam adalah dalam pikiran sebetulnya. Begini, jika kita melakukan pengamatan sesuatu dengan panca indra selalu ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim, bahkan juga berlawanan dengan kaidah atau hokum-hukum yang dianut oleh masyarakat umumnya. Lubuk hati terdalam kadang-kadang tidak bias diucapkan karena sesuatu dan lain hal. Nah, yang susah diucapkan dan kepada siapa mengucapkannya itulah yang akan saya upayakan untuk menulisnya.

Tentu saja dalam menuliskan sesuatu dari dalam lubuk hati terdalam terkadang tidak bias dipungkiri akan menyangkut orang lain. Bahkan bukan hanya kadang-kadang tapi seseringnya menyangkut pihak ke dua atau ke tiga, sekali lagi menyangkut orang lain selain diri sendiri. Iya memang paling sering adalah menyangkut diri sendiri. Cerita tentang diri sendiri. Tapi bagaimana suatu tulisan yang menceritakan tentang isi lubuk hati terdalam mengenai orang lain tanpa orang lain itu tersinggung atau nggak enak jika tulisan tersebut terbaca oleh orang yang jadi pusat tulisan? Nampaknya disinilah kemampuan menulis yang tidak menyinggung perasaan orang lain. Bagaimana mengemasnya agar enak dicerna oleh pembaca.

Mengapa sesuatu yang ada didalam lubuk hati harus ditulis? Karena sekali lagi untuk beberapa alas an. Pertama barangkali untuk agar apa yang terdapat di dalam lubuk hati terdalam bias dicerna dan diketahui orang lain. Kedua juga bias dikaji nantinya oleh siapa saja yang membacanya, kalau tidak ada yang membaca, maksudnya orang lain, ya suatu saat dibaca lagi oleh diri sendiri. Ketiganya berlatih menulis sesuatu yang sukar untuk “ditulis” juga sukar untuk diucapkan. Sekali lagi mengapa jadi serba sukar? Karena sekali lagi jalan pikiran yang mengendap dalam lubuk hati terdalam kadang tidak lazim untuk diucapkan, bahkan apalagi akan sulit untuk ditulis.

Tulisan ini juga semata-mata mulai belajar mengemukakan pendapat yang ada dalam lubuk hati terdalam yang mungkin bagi orang lain tidak ada gunanya, tidak ada manfaatnya, bahkan buat apa yang “begitu” sampai ditulis. Sebetulnya atau sesungguhnya saya ingin beberapa tulisan tidak usah dibaca orang lain, karena apa? Karena belum tentu betul ceritanya kan baru perkiraan sendiri bukannya hasil penyelidikan bahkan penelitian. Jadi pendapat daro dalam lubuk hati belum seluruhnya betul.

Ya itulah kadang saya tidak tahu bagaimana sebuah tulisan agar tidak dibaca orang lain adakah passwordnya ya? Rasanya pernah membaca ada passwordnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s