Mengantar Penderita Ke Rumah Sakit

Karena mengantar istri kakak yang jauh umurnya diatas saya, saya tidak begitu “berani” untuk memberikan saran atau pendapat. Namun saya merasa heran mengapa penderita dengan keluhan lemas, mual, terus badan panas, yang rasanya tidak ada hubungannya dengan syaraf, tapi dibawa ke dokter syaraf.

Selidik punya selidik ternyata istri kakak saya yang sedang sakit itu, sangat berkenan dengan dokter syaraf tersebut. Sehingga terserah dokter syaraf apakah kelak mau dikonsulkan ke dokter mana pun. Dan ahirnya setelah diperiksa dokter syaraf dan juga diperiksa darah memang selanjutnya dikirim ke dokter ahli penyakit dalam. Ini pemborosan bukan? karena harus diperiksa 2 dokter, meski memang iya, ada semacam kelegaan di hati penderita sebab telah menemui dulu dokter yang disukai yaitu dokter syaraf.

Akibat dari telah berhubungan dengan 2 dokter biaya pengobatan juga jadi lebih mahal yaitu sejumlah Rp 315.000, mungkin kalau langsung ke dokter spesialis penyakit dalam pembayaran bisa agak lebih murah, tapi sekali lagi biar saja karena telah berobat dulu kepada dokter yang lebih berkenan.

Belakangan ternyata salah satu kakak memberikan informasi bahwa sebaiknya yang paling tepat adalah membawanya ke UGD, dari situlah pasien bisa diarahkan ke dokter mana yang lebih cepat dan tepat. Saya memang merasa telah bersalah karena telah mengantarkan pasien ke cara yang panjang dan biaya yang mahal. Inilah akibat dari ewuh pakewuh dengan kakak yang tidak perlu, jadinya rasionalitas menjadi hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s