Menuliskan Jalan Pikiran

Saya ingin menuliskan sesuatu yaitu apa yang ada di dalam pikiran tentang atau mengenai sesuatu hal. Akan tetapi ternyata terkadang sulit untuk dijadikan atau dilahirkan menjadi sebuah tulisan. Saya hanya ingin sederhana saja sekali lagi pikiran saya tentang sesuatu menjadi tulisan.

Mengapa demikian sulit untuk ditulis, apakah kendalanya? Menurut saya kemungkinan besar yang ada dalam pikiran itu belum tentu benar, jadi sulit untuk ditulis. Atau merasa bahwa tidak pantas untuk ditulis. Di bawah ini saya ingin menceritaka suatu peristiwa yang menjadikan saya berpikir tentang hal itu atau peristiwa itu. Cerita ini awalnya tidak akan diberi dulu muatan oleh pendapat pribadi, melulu hanya cerita. Hanya diahir cerita pendapat pribadi mulai dimasukkan.

Kami para pensiunan dari suatu perusahaan sedang berkumpul di suatu tempat dalam rangka tajiah (mengunjungi rumah tempat tinggal seseorang dari kami yang meninggal). Kami mengobrol ke sana ke mari maklum maklum merasa kangen karena termasuk jarang bertemu. Sementara itu almarhumah sedang dimandikan, jadi kami menunggu untuk menyolatkannya. Pembicaraan sampai kepada masing-masing, tidak semua hanya tiga orang, harus mengeluarkan HP-nya. Dua orang sudah mengeluarkan HP-nya, akan tetapi ketika saya juga mau mengeluarkan HP, terasa ada perasaan rendah diri (minder).

Disinilah pikiran saya mulai berjalan, mengapa saya malu mengeluarkan HP sendiri? Langsung saja sudah disebutkan memang bahwa saya merasa minder bahwa HP saya jelek dan jadul. Sedangkan HP mereka pasti baik, sebetulnya saya sendiri tidak tahu HP yang bagaimana yang baik itu, bahkan saya tidak melihat secara jelas HP-nya kedua kawan pensiunan saya tersebut.

Mengapa saya menganggap HP mereka baik atau kelas mahal? Karena ada penyebabnya. Pertama dua kawan saya itu pensiunnya relatif baru, jadi tentu masih tebal kantongnya (sebagaimana saya dulu ketika baru saja pensiun). Kedua mereka adalah pensiun pada jabatan yang lebih tinggi dibanding saya, tentu uang pesangonnya lebih besar. Ketiga mereka berdua terbiasa dengan alat-alat modern, dan banyak mengerti soal barang-barang elektronik, pada tulisan di kalimat ini saya ingin menyatakan bahwa mereka berpikiran maju mengikuti tren kepemilikan alat elektronik. Keempatnya, bahkan salah satu diantara kawan saya itu masih bekerja sebagai expatriate di salah satu perusahaan LNG di Yaman.

Yang ingin saya nyatakan dalam tulisan adalah mengapa dalam usia yang setua ini masih ada “persaingan” kepemilikan barang duniawi hususnya yang sedang dibicarakan adalah HP? Manusiawikah hal tersebut jika menimpa diri saya? Terus pikiran saya juga berlanjut, jika saja saya yang setua ini (63 tahun) masih ada perasaan minder semacam itu, hanya tentang kepemilikan sebuah HP, tentu perasaan anak-anak yang masih usia muda, mereka yang masih remaja juga begitu, ingin menyatakan kehadirannya.

Ini saya akan sampai kepada suatu kesimpulan bahwa (ini pikiran saya!) kita perlu introspeksi, tenggang rasa kepada kaum muda yang masih bersaing menunjukkan “kekayaannya”, karena apa? Karena saya pun yang sudah tua begini masih merasa minder untuk mengeluarkan HP saya yang saya nilai jelek dan jadul. Jelasnya jangan salahkan anak muda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s