Kebaikkan Kepada Kerabat

Ketika saya sedang mengemudikan mobil, HP istri saya berbunyi, ternyata telepun dari kerabat dekat tapi jauh. Maksud saya kerabat dekat adalah keponakan, sedangkan kerabat jauh adalah lokasi tempat tinggalnya jauh di Salatiga. Pendek cerita Si Keponakan ini minta tolong, karena dia dalam kesulitan keuangan yaitu meminta tolong dari istri saya atau jelasnya saya, meminjam uang sebanyak Rp 3 juta untuk menebus kendaraan roda dua yang tergadaikan.

Istri saya langsung menjawab, ini juga ringkasan cerita, menolak alias tidak sedang punya uang untuk memberikan pinjaman tersebut. Namun nanti akan diceritakan kepada kakaknya, tentang kebutuhan tersebut, kebetulan saat itu pun saya sedang menuju ke rumahnya. Kebetulan kakak istri saya tersebut sedang mempunyai uang hasil dari penjualan tanah, saya ingin menyebutkan bahwa uangnya tidak besar-besar amat yaitu sekitar Rp 60 Jutaan.

Sorenya saya menanyakan kepada istri saya persoalan keperluan keponakannya tersebut. Si kakak, kata istri saya, mengatakan, ya didaftar saja dulu sebab antrian mah sudah panjang. Wah, dalam batin saya telat nih ada kemungkinan tidak terlaksana permohonan Si Keponakan tersebut.

Dua hari kemudian, istri saya menerima SMS dari kakak tersebut bahwa nitip SMS pernyataan sebagai bukti bahwa telah dikirimkan sejumlah Rp 3 Juta kepada rekening istri Si Keponakan itu. Alhamdulillah batin saya. Ternyata kakak istri saya telah melaksanakan perintah Allah SWT di dalam Al Quran dimana harus berbuat baik terhadap kerabat.

Sebelumnya, kakak istri saya yang tertua menyatakan bahwa Si Kakak yang meminjamkan uang Rp 3 juta itu, sudah secara baik mengamalkan hubungan baik dengan sesama manusia, jadi tidak sepanjang habluminallah saja. Sekarang satu bukti lagi bahwa beliau telah menunjukkan kembali sebagaimana dikatakan oleh kakak tertua tersebut.

Saya, terus terang merasa terpukul, karena apa? Karena saya lebih mampu untuk melakukan pertolongan, meskipun memang sekarang sedang dalam kondisi “begini” tidak memiliki uang cash sebesar itu, tapi kalau dibanding dengan kepemilikkan harta, saya lebih “punya” dibanding dengan kakak tersebut.

Meski malu ternyata banyak kawan, kalau soal “keburukkan” mah dari sekian banyak saudara yang ngeuh terhadap orang lain, hanya satu kakak itu yang meminjamkan uang Rp 3 juta itu. Kok bisanya begitu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s