Sungai Meluap

Bandung sekarang cuacanya mendung dan terus-terusan diguyur hujan. Tempo hari ketika hujan jarang datang, terasa udara Bandung panas, di rumah biasanya disertai nyamuk yang sangat mengganggu mengiang-ngiang di telinga. Tapi saat ini sudah hampir seminggu Bandung diguyur hujan, dengan sendirinya udara sejuk, dan di rumah, kalau tidur, menarik selimut, bahkan di rumah pun sebelum tidur mengenakan baju jaket. Herannya nyamuk hilang entah pada kemana. Tidurpun terasa nyenyak dibuatnya.

Tapi meski musim hujan, kegiatan rutin pagi saya yaitu olah raga jalan kaki dengan target satu setengah jam atau kalau bisa 100 menit harus saya lakukan. Jadi biasa masih berembun, tumben Bandung berembun, saya sudah mulai melangkah. Target kali ini adalah mengelilingi kompleks rumah selama setengah jam. Dilanjutkan terus berjalan kaki menuju sungai yang namanya sungai Cidurian niatnya sambil melihat air sungai Cidurian mengalir, saya bisa berjalan di jalan setapak sepanjang kali.

Tapi setelah saja berjalan kurang lebih 45 menit, jalan yang ditempuh semakin kotor, becek, dan berlumpur, dalam pikiran saya pasti telah terjadi banjir semalam, apakah dari sungai Cidurian ya? Ketika saya betanya ke orang yang berdiri dipinggir jalan ternyata betul air sungai Cidurian meluap dan jalan air mengikuti hukum alam dimana yang tidak  ada tanggulnya kesitu dia mengalir. Dan juga otomatis air akan meluap ke bagian yang lebih rendah dan itu adalah kompleks perumahan. Karena nasihat orang tersebut saya lebih baik kembali, maka karena malas kembali,  saya mencari jalan setapak sekalian ingin melihat sungai Cidurian seperti target semula.

Ternyata betul semalam sungai yang biasanya ramah, kali ini meluap membobol tanggul yang rapuh, bahkan ke bagian yang tidak ada tanggulnya. Ternyata di pinggir sungai telah banyak orang yang akan bekerja bakti membersihkan sampah di jalan karena terbawa banjir. Tapi juga barangkali mereka kumpul untuk membicarakan bagaimana agar bisa mengatasi banjir agar tidak terulang kembali.

Saya terus berjalan, ke arah hulu sebab saya yakin bahwa kelak akan sampai di jalan besar sekitar perumahan tempat saya tinggal. Ternyata bukan hanya perumahan akan tetapi sawah pu terkena banjir. Masyarakat petani disekitarnya sedang membicarakan tanggul yang dikeruk oleh PU sehingga di tepi sungai tidak ada lagi tanggul dan seperti kata saya tadi air langsung mencari tempat untuk mengalirnya. Kenapa PU disebut, karena tanah tanggul dari hasil kerukan sungai dikeruk kembali entah dibawa ke mana.

Saya terus berjalan, kondisi jalan yang saya lewati betul-betul berlumpur, dan baik sepatu maupun celana kotor kena tanah dan basah. Ini adalah pekerjaan rumah saya sendiri begitu datang langsung  dicuci.

Meski ceritanya panjang, jalan kaki saya tidak mencapai target satu setengah apalagi 100 menit, akan tetapi hanya  sekitar satu jam 20 menit, lumayan karena medannya cukup berat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s