Pemadaman Listrik

Giliran pemadaman listrik ternyata bukan hanya di Jakarta, akan tetapi juga samapi ke Bandung, bahkan wilayah tempat tinggal saya juga terkena giliran pemadaman. Karena sudah terbiasa hidup “modern” selalu menggunakan tenaga listrik, maka perasaan canggung telah menyergap diriku.

Perasaan kaku dan canggung terasa adalah tidak bisa menonton TV, sepertinya berjalan kesana kemari, perasaan ada sesuatu yang hilang. Padahal hanya tidak bisa melihat TV saja. Sebetunya untuk apa menonton TV? apalagi saya hanya seorang pensiunan yang hanya hidup berdua istri di rumah.

Untuk apa saya harus terus mengikuti berita tentang dikriminalisasikannya KPK, atau buat apa mengikuti berjalannya pengadilan terhadap terdakwa Antasari Azhar. Saya tidak akan lebih “baik” kalau tahu jalannya persidangan. Juga saya tidak akan menjadi “buruk” ketika tidak tahu masalah KPK.

Karena apa saya sebutkan semua itu, karena saya tidak berinteraksi atau bergaul dengan siapapun untuk berbicara, berdiskusi, bahkan berdebat persoalan yang diberitakan TV. Barangkali hanya satu-satunya yang bisa diajak berdiskusi hanya satu-satunya yaitu istri saya.

Memang, kadang tidak tahu untuk apa sebetulnya menonton TV itu apalagi sedang giliran pemadaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s