Perlukah Meminta Maaf?

Saya pun jika jadi pejabat dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sepertinya akan sama, tidak perlu meminta maaf, hanya akan mengundurkan diri!

Alma, “Jangan Takut Mengonsumsi Obat Filariasis”

BANDUNG, (PR).-

Masyarakat yang belum mengonsumsi obat filariasis diharapkan tidak takut untuk meminum obat tersebut. Sebab, tujuan pengobatan ini untuk menurunkan kadar mikrofilaria yang ada dalam tubuh warga Kabupaten Bandung yang terhitung cukup tinggi.Rasa mual dan muntah merupakan reaksi yang timbul karena hancurnya mikrofilaria yang ada dalam tubuh. Berdasarkan literatur dan pengalaman, tidak ada yang meninggal karena meminum obat ini.

“Namun yang pasti, kalau kondisinya sedang tidak dalam keadaan bagus, jangan dulu minum obat ini. Yang bisa merasakan sehat tidaknya kondisi adalah kita sendiri. Misalnya, ketika sedang kurang tidur jangan minum obat dulu karena dengan kurang tidur kita bisa masuk angin, badan terasa panas dingin, dan lemas. Kalau dipaksakan minum obat ditambah munculnya rasa mual, muntah, dan pusing karena cacingnya hancur, yang terjadi malah menyalahkan obatnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jabar, dr. Hj. Alma Lucyati, M.H.Kes., kepada “PR” di kantornya, Jln. Pasteur, Bandung, Kamis (12/11).

Menurut Alma, kalau masyarakat tetap tidak mau minum obat, itu hak mereka. Namun, kata dia, jangan sampai Dinkes disalahkan nantinya. Pemerintah akan salah kalau tidak melaksanakan kewajibannya memberikan jaminan pelayanan kesehatan.

“Kalau masyarakatnya yang tidak mau, jangan salahkan kita dan kalau nantinya sampai banyak kasus penyakit kaki gajah jangan sampai timbul pemikiran kenapa pemerintah tidak sampai mengupayakan agar masyarakat tidak sakit,” ujarnya.

Alma menjelaskan, beberapa kota lain juga sudah melaksanakan pengobatan massal filariasis, tetapi tidak ada kejadian seperti di Kabupaten Bandung. Misalnya, Kota/Kab. Bekasi, Kota/Kab. Bogor, Depok, Subang, Karawang, Purwakarta, Tasikmalaya, dan Kuningan.

“Beberapa daerah sudah hampir lulus karena tahun depan sudah lima kali diberikan. Mereka yang mengeluh mual, muntah, dan pusing jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 10-20 orang,” katanya.

Alma pun memaparkan, pemberian obat filariasis tidak asal-asalan, tetapi diberikan berdasarkan perhitungan yang didapat melalui survei. Pemeriksaan sampel yang diambil juga dilakukan tiga kali, yaitu di laboratorium mikrofilaria tingkat kabupaten, provinsi, dan pusat.

Hasilnya pemeriksaan tersebut menunjukkan kadar mikrofilaria di Kabupaten Bandung jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya yang diberi pengobatan filariasis.

“Artinya, hampir semua penduduk yang ada di Kabupaten Bandung dalam tubuhnya sudah terdapat mikrofilaria, hanya ada yang sudah bergejala, ada yang belum, sehingga harus dilakukan pengobatan massal filariasis,” tuturnya.

Alma menambahkan, dengan pengobatan tersebut diharapkan kadar mikrofilaria mulai turun. Sebab, seseorang yang sudah terkena penyakit kaki gajah akan menjadi beban diri sendiri dan keluarganya.

“Di Kabupaten Bandung kan sudah ada 31 penderita dan di tingkat Jabar ada 980 orang, kalau dibiarkan jumlahnya akan menjadi ribuan, lantas nanti siapa yang akan menolongnya, maka pencegahan seperti ini sangat penting,” ucapnya.

Teruskan program

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kab. Bandung mengimbau kader pengobatan massal penyakit kaki gajah untuk meningkatkan pengawasan terhadap warga yang memiliki riwayat penyakit berat, sebelum memberikan obat. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah efek samping yang tidak bisa ditoleransi oleh tubuh.

Seperti diberitakan sebelumnya, ada beberapa kriteria warga yang dilarang untuk mengonsumsi obat antikaki gajah. Kriteria tersebut yaitu bayi atau balita kurang dari dua tahun, ibu hamil, ibu menyusui, pengidap gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, TBC kronis, asma dalam keadaan kambuh, darah tinggi lebih dr 200 mmhg (hipertensi berat), HIV AIDS, bronkopneumonia, gizi buruk, demam lebih dari 38 derajat, kanker, lupus, diare, dan pasien dalam perawatan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bandung Grace Mediana ketika ditemui di ruang kerjanya, Kamis (12/11), mengatakan bahwa pengawasan tersebut dilakukan untuk meminimalisasi keresahan yang terjadi di masyarakat.

Ia meyakinkan, ketiga obat yang diberikan yaitu diethyl carbamazine citrate (DEC), albendazole, dan parasetamol, bukan obat yang berbahaya. “Tetapi akan dilakukan investigasi, sejauh ini kasus seperti ini baru ada di Kab. Bandung,” ucapnya.

Ia juga menampik adanya dugaan obat kedaluwarsa. “Waktu kedaluwarsa ketiganya masih panjang, yaitu antara 2013 dan 2014,” ujar Grace.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kab. Bandung Suhardiman mengatakan, efek samping yang dirasakan oleh sebagian warga Kab. Bandung diperkirakan terasa lebih berat pada tahun pertama penyelenggaraan pengobatan dari lima tahun yang direncanakan. “Asumsinya, anak cacing di dalam darah akan lebih keras bereaksi ketika pertama kali dihampiri oleh obat,” katanya.

Untuk itu, ia mengatakan, masyarakat sebaiknya tidak panik dan tetap melangsungkan kegiatan meminum obat secara massal. “Kab. Bandung adalah wilayah endemis penyakit kaki gajah, sampai kapan mau seperti itu kalau masyarakatnya tidak mau memutus mata rantai penyakit kaki gajah?” ucap Suhardiman. (A-62/A-175)*** pikiran-rakyat.com 131109

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s