Mencoba Berpihak Kepada Hendarman Supanji

Hendarman Supanji, fajar.co.id

Hendarman Supanji, fajar.co.id

Hampir semua orang kenal siapa Hendarman Supanji, apalagi saat ini sedang hangat-hangatnya “perseteruan” antara Kejaksaan / Kepolisian di satu pihak dengan pihak lain yaitu KPK yang didukung masyarakat anti korupsi. Berpikir atau bertindak seperti Hendarman Supanji yang Kejaksaan Agung kita menyadari berbeda dengan cara berpikir individu lain. Mencoba empati atau berpikir cara Hendarman Supanji barangkali cukup menarik

Dalam hal berpikir, bertindak, berpendapat, bahkan dalam keberpihakkan, seyogianya lebih bijak andai kita mencoba berpikir ala “lawan” kita. Dalam hal ini penulis ingin berempati kepada “musuh” yang ada dalam pikiran yaitu Kejaksaan Agung Hendarman Supanji. Saya akan mulai dengan pertanyaan “Mengapa Kejaksaan Agung Hendarman Supanji sampai berpikir begitu?”

Simak di bawah ini:

AKARTA — Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) dimanfaatkan Jaksa Agung, Hendarman Supandji untuk bercurhat ria. Pada RDP tersebut, Jaksa Agung, menceritakan bagaimana sulitnya mengubah perilaku korps kejaksaan yang moralnya sulit diubah. Hendarman bahkan sempat berpikiran untuk keluar dari kejaksaan lantaran korps tersebut sudah sangat rusak akibat perilaku anggotanya.

Padahal dirinya sudah melakukan sejumlah upaya untuk memperbaiki kejaksaan. “Saya masuk kejaksaan bukan panggilan jiwa. Saya sering mau keluar dari kejaksaan tapi tuhan meminta saya untuk bertahan. Untuk apa? Untuk melakukan perubahan, tapi mengubah kejaksaan tidak mudah, karena ada 20 ribu orang di kejaksaan,” tutur Hendarman.

Setelah memutuskan untuk bertahan, Hendarman memulai pembenahan di tubuh kejaksaan lewat perbaikan moral. Hal tersebut selalu disampaikan dalam sejumlah pertemuan. “Saya selalu sampaikan mari kita memperbaiki moral. Mari kita memperbaiki tingkah laku. Ini merupakan anak tangga untuk melakukan perbaikan,” ujar pria berkacamata tersebut.

Ia mengaku tidak takut untuk melakukan pembenahan di kejaksaan. Sebab Hendarman percaya dengan niat yang baik memperbaiki kinerja kejaksaan, dirinya akan mendapat perlindungan dari Tuhan. “Kalau saya maju lindungilah saya dalam menyelesaikan masalah ini. Tidak ada aturan yang saya langgar karena ada Tuhan yang menyaksikan dan melindungi saya,” katanya.

Jaksa yang terangkat sebagai Jaksa Agung 2,5 tahun lalu ini mengaku sering tidak memberi perhatian kepada anak dan istrinya karena lebih berkonsentrasi melakukan pembenahan di kejaksaan. “Nda ada pikiran saya untuk istri anak, semua saya curahkan untuk institusi saya,” urai Hendarman. (mba/fmc). Sumber: fajar.co.id

Dan perhatikan ini:

Hendarman Minta Gaji Jaksa Rp 10 Juta untuk Basmi Makelar Kasus

Senin, 09 November 2009 | 14:36 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Jaksa Agung Hendarman Supandji mengatakan mengganyang makelar kasus di tubuh kejaksaan bukanlah persoalan mudah. Pasalnya, sebelum peristiwa terjadi, adanya praktek makelar kasus sulit diendus. Untuk mengenyahkan makelar kasus, Hendarman mengusulkan solusi menaikkan anggaran kejaksaan Rp 10 triliun.

“(Saya) ingin berantas markus. Tapi markus cuma baunya, sulit untuk dibuktikan,” kata Hendarman dalam rapat kerja dengan Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (9/11). Hendarman mengatakan selama ini upayanya untuk menghilangkan makelar kasus selalu dilakukan. Caranya adalah dengan menempeli kertas di tiap kantor kejaksaan makelar kasus dilarang masuk.

Tapi ternyata cara itu, kata Hendarman, tidak efektif. Sebab, interaksi antara makelar kasus dengan orang kejaksaan bisa terjadi di luar kantor.

Atas dasar itu, Hendarman mengusulkan solusi peningkatan gaji jaksa untuk mencegah praktek makelar kasus. Dia meminta anggaran kejaksaan dinaikan menjadi Rp 10 triliun. Jika tidak bisa Rp 10 triliun, Hendarman meminta paling tidak anggaran jadi Rp 5 triliun. Dengan anggaran sebesar itu, gaji tiap jaksa bisa mencapai Rp 11-12 juta. “Tidak seperti sekarang yang cuma Rp 3 juta,” kata dia.

Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat tengah menggelar rapat dengar pendapat dengan Kejaksaan Agung terkait kasus yang menjerat pemimpin (nonaktif) Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.

AMIRULLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s