Rumah yang Baru Dicat

Rumah yang baru dicat itu, rumah yang menjadi hegar dan mencorong itu, ternyata menyisakan sebuah penyesalan kecil pada diriku. Karena aku menganggap abahwa aku telah lancang menanyakan tentang  “mengapa” rumah tersebut dicat, malahan aku telah bertanyanya kepada menantu si pemilik rumah.

Hari ini begitu saya keluar rumah, saya melihat tuan rumah sedang menyapu halaman, dan saya merasa bahwa persoalan ini harus segera clear. Saya – biasa dengan penuh PD – langsung mengajak salaman pemilik rumah tersebut. Karena sesama orang Sunda jadi wajib hukumnya berbicara bahasa Sunda dengan tetangga. Jadi sebetulnya percakapan ini dalam bahasa Sunda

“Apa kabar Pak?” sapaku

“Eeeh, Pak E.. baik, apa kabar?”

“Bagaiman Pak, saya sudah bertanya kepada mantu Bapak mengenai maksud bapak” kata saya berbasa basi, sekalian satu paket dengan permohonan maaf, walaupun kata-katanya tidak terucapkan.

Selanjutnya langsung cerita, bahwa memang pada hari raya Ied sore-sore akan ada yang datang untuk melamar anaknya, dan tambahnya mengundang saya untuk datang pada waktunya, tambah pemilik rumah

Waduh, saya kan pada hari itu ada acara yaitu rencana pertemuan sekeluarga untuk bermalam di salah satu tempat.

“Maaf saya tak bisa hadir, semoga segalanya berjalan sesuai dengan pengharapan, saya mengahiri percakapan dan segera pamitan untuk berolahraga berjalan kaki.

Ternyata masih menyisakan sesuatu, saya merasa berdosa sampai tidak bisa memenuhi undangan penting dari tetangga. Semoga dia penuh pengertian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s