Quraish: Perbedaan Sunni-Syiah Amat Kecil

Sabtu, 31 Oktober 2009 | 11:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Konflik keyakinan yang berlangsung selama 90 tahun antara Islam Sunni dan Syiah sudah saatnya diakhiri. Menurut penulis dan ahli tafsir Quraish Shihab mengajak umat Muslim dua kelompok ini untuk berjalan beriringan. Itu ia kemukakan dalam bedah buku karyanya berjudul “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?” di Universitas Hasanuddin Makassar awal pekan ini.

Mantan Menteri Agama ini menjelaskan, kelompok Suni dan Syiah bukan perlu disatukan, tapi digandengkan. “Keduanya memang berbeda, namun dua-duanya bisa benar,” tutur Quraish yang berasal dari Sulawesi Selatan ini.

“Saya ingin katakan, pertama bahwa kita memang berbeda. Tapi perbedaan itu terlalu sedikit dibanding dengan persamaan yang ada. Yang kedua, Allah sebenarnya menghendaki adanya perbedaan. Contohnya dalam Al Quran ada bacaan yang berbeda-beda. Bisa ada penafsiran yang berbeda-beda pula,” jelas Quraish.

Dalam bukunya, Quraish mengungkap konflik panjang antara umat Muslim bukan hanya antara Sunni dan Syiah, tapi juga mazhab-mazhab di dalamnya. Perbedaan utama menyangkut imam, yaitu siapa yang memimpin Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Sunni yang jumlahnya mayoritas, 80 persen, adalah orang yang secara konsisten mengikuti tradisi Nabi Muhammad SAW. Adapun kelompok Syiah menamai diri mereka sebagai ahlussunnah, dalam pengertian bahwa mereka juga mengikuti tuntunan Nabi. Dan memang semua kaum Muslim harus mengakui dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.”

Dalam buku  tentang kajian atas konsep ajaran dan oemikiran itu Quraish juga menghimbau agar perbedaan yang ada jangan diperlebar. Perbedaan pendapat adalah kewajaran. Mempertentangkan pemikiran hanya akan menghabiskan waktu.

Ia menambahkan, tak dapat disangkal antar umat Islam telah terjadi caci maki, bahkan fitnah-memfitnah antara sebagian pengikut Sunni dan Syiah. Situasi itulah yang melahirkan aneka sikap yang sebagian di antaranya tidak berkenan di hati para penganut kelompok-kelompok itu.

Jika hal itu dapat disadari maka semoga dapat ‘dimengerti’ mengapa terjadi caci maki, kemudian pada gilirannya diharapkan lahir sikap menutup lembaran lama dan membuka yang baru guna menciptakan saling pengertian dan hubungan harmonis.

“Musuh kita adalah musuh bersama. Kita perlu bergandengan tangan. Yang penting kita berjalan beriringan. Jangan berkata ‘itu kafir’ atau ‘itu sesat’. Jika orang mau bergandengan tangan, harus punya toleransi yang begitu kuat,” kata Quraish di akhir acara yang dihadiri 250 orang mahasiswa  itu.

Buku Quraish ini sebenarnya bukan baru. Cetakan pertama diterbitkan pada 2007. Pada tahun itu pula, buku setelah 303 halaman ni sempat dicetak dua kali dalam kurun waktu kurang dari lima bulan. Ia mengajak kepada umat Islam untuk bersatu dalam tauhid, yaitu mengesakan Allah SWT dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW.

SUKMAWATI

tempointeraktif.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s